LANDASAN FILOSOFIS PENGEMBANGAN KURIKULUM
MAKALAH
Diajukan
untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Kurikulum
Yang dibina
oleh: Misnawi M.P.d
Oleh: kelompok II
ANDI MAHRUJI (18201301010046)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PAMEKASAN
APRIL 2015
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan
kepada Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayahnya makalah ini dapat hadir
ditengah-tengah kita pada waktu yang telah ditentukan. Solawat serta salam
semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW serta
pada pengikutnya sampai akhir zaman.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata
kuliah Pengembangan Kurikulum di STAIN Pamekasan yang tentunya di dalamnya
masih banyak kesalahan-kesalahan atau sesuatu yang perlu disempurnakan baik
dari segi susunan kalimatnya atau dari segi rujukannya yang terlalu sedikit.
Oleh karena itu kepada pembaca sekalian
khususnya dosen, kritik dan sarannya yang sifatnya membangun, penulis selalu
harapkan dan yang terkhir dari penulis semoga keberadaan makalah ini memberikan
mamfaat kepada kita semua sehingganya bisa menggapai kebahagiaan fiddun-ya wal
akhiroh. Amin,,,
Penulis
Kelompok
DAFTAR ISI
Halam sampul..................................................................................................
*
Kata pengantar................................................................................................
*
Daftar isi.........................................................................................................
1
Bab I...............................................................................................................
2
Pendahuluan....................................................................................................
2
A. Latar belakang masalah.......................................................................
2
B. Rumusan masalah................................................................................
2
C. Tujuan masalah.................................................................................... 3
Bab II..............................................................................................................
4
Pembahasan.....................................................................................................
4
A. Pengertian Filsafat..............................................................................
4
B. Filsafat dan tujuan pendidikan...........................................................
5
C. Mamfaat filsafat pendidikan...............................................................
6
D. Kurikulum dan filsfat pendidikan.......................................................
7
E. Aliran-aliran filsafat pendidikan.........................................................
8
Bab III...........................................................................................................
17
Penutup..........................................................................................................
17
A. Kesimpulan........................................................................................
17
Daftar Pustaka..................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah.
Kurikulum merupakan track yang
harus dilalui peserta didik dalam pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan
pendidikan. Kurikulum yang digunakan dalam pendidikan meskipun sudah dirumuskan
dengan sangat baik tetapi masih memiliki kekurangan terutama dalam
pelaksanaannya. Maka dari itu pengembangan kurikulumpun menjadi sesuatu yang tidak
dapat dihindarkan dalam dunia pendidikan. Dalam pengembangan kurikulum terdapat
istilah yang dinamakan landasan pengembangan kurikulum.
Ketika kita mendengar
kata landasan mungkin ada yang teringat pada suatu dasar atau pondasi. Jika
kita ingin suatu bangunan menjadi kokoh dan tidak mudah hancur maka pondasi
bangunan harus kuat menopang bangunan yang akan kita buat nantinya . Seperti
halnya bangunan, kurikulum pun memiliki landasan pengembangan yang menjadi
dasar atau acuan dalam mengembangkan kurikulum agar kurikulum yang dibuat
tersebut dapat dilaksankan sebaik mungkin dalam mencapai tujuan pendidikan.
Dalam pengembangan
kurikulum terdapat istilah yang dinamakan landasan pengembangan kurikulum, lalu
apa yang dimaksud dengan landasan pengembangan itu sendiri?.
Oleh karena itu, makalah ini mencoba untuk
memaparkan salah satu dari beberapa landasan yang menjadi auan dalam
pengembangan kurikulum, yaitu landasan filosofis pengembangan kurikulum.
B.
Rumusan
Masalah.
a.
Apa yang dimadsut dengan filsafat?
b.
Bagaimana hubungan filsafat dan tujuan
pendidikan?
c.
Apa mamfaat filsafat pendidikan?
d.
Bagaiman hubungan filsafat pendidikan dengan
kurikulum?
e.
Apa saja aliran-aliran filsafat pendidikan?
C.
Tujuan Masalah.
Dari makalah ini yang menjadi tujuan masalahnya
yaitu untuk mengetahui ruuan masalah, diantaranya: Apa yang dimadsut dengan
filsafat?, Bagaimana hubungan filsafat dan tujuan pendidikan?, Apa mamfaat
filsafat pendidikan?, Bagaiman hubungan filsafat pendidikan dengan kurikulum?,
Apa saja aliran-aliran filsafat pendidikan?.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Filsafat.
Istilah filsafat merupakan terjemahan dari bahasa ingris “phylosophy”
yang erasal dari perpaduan dua kata yunani purba “philien” philien” yang
berarti cinta (love), dan “sophia” (wisdom) yang berarti
kebijaksanaan. Jadi secara etimologi filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau love
of wisdom.[1]Secara
oprasional filsafat mengandung dua pengertian, yakni sebagai proses
(berfilsafat) dan sebagai hasil filsafat (sistem teori atau pemikiran).[2]
Dua dari lima difinisi filsafat yang dikemukakan Titus menunjukkan pengertian
di atas: “phylosophy is a method of reflective thinking and reasoned
inguiry; .....Philosophy is a group of theories or system of thought”.[3]
Dalam Kaitannya dengan difinisi filsafat sebagai proses, socrates
mengemukakan bahwa filsafat adalah cara berfikir yang mengupas sesuatu
sedalam-dalamnya.[4]
Berdasarkan ruang lingkup yang menjadi objek kajannya, filsafat
dapat di bagi kedalam dua cabang besar, yaitu: filsafat umum atau filsafat
murni dan filsafat khusus atau filsafat terapan di antaranya cabang-cabangnya
sebagai berikut:
1.
Cabang
filsafat umum atau filsafat murni.
a.
Metafisika,
membahas hakikat kenyataan atau realitas yang meliputi, seperti metafisika umm
atau ontologi dan metafisika khusus (Kosmologi, teologi, antropologi).
b.
Epistemologi
dan logika, membahas hakikat pengetahuan (sumber pengetahuan, kesahihn
pengetahuan, dan batas-batas pengetahuan) dan hakikat penalaran (induktif an
deduktif).
2.
Cabang-cabang
filsafat khusus atau filsafat terapan, pembagiaanya didasarkan pada kekhususan
objeknya, antara lain: Filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat pendidikan
dan lain-lain.[5]
B.
Filsafat dan tujuan pendidikan.
Pandangan-pandangan filsafat sangat dibutuhkan dalam pendidikan,
terutama dalam menentukan arah dan tujuan pendidikan. Filsafat akan menentukan
kemana arah peserta didik akan di bawa. Untuk itu harus ada kejelasan tentang
pandangan hidup manusia atau tentang hidup dan eksistensinya.
Filsafat atau pandangan hidup yang dianut oleh suatu bangsa atau
kelompok masyarakat tertentu atau bahkan yang dianut oleh suatu bangsa atau
kelompok masyarakat tertentu atau bahkan yang dianut oleh perorangan akan
sangat memengaruhi tujuan pendidikan yang akan dicapai. Sebagian tujuan
pendidikan sendiri pada dasarnya merupakan rumusan yang komprehensip mengenai
apa yang seharusnya di capai.
Tujuan pendidikan memuat pertanyaan-pertanyaan mengenai berbagai
kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh peserta didik selaras dengan
sistem nilai dan falsafah yang dianutnya.[6]
Dengan emikian sistem nilai atau falsafah yang dianut oleh suatu komonitas akan
memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan rumusan tujuan pendidikan yang
dihasilkannya. Dengan kata lain filsafat suatu negara tidak bisa dipungkiri
dengan memengaruhi tujuan pendidikan di negara tersebut. Oleh karena itu tujuan
pendidikan suatu negara akan berbeda dengan tujuan negara lainnya, sebagai
implikasi dari adanya perbedaan filsafat yang dianutnya.[7]
Tujuan pendidikan nasional Indonesia bersumber pada pandangan hidup
masyarakat,berbangsa dan bernegara yaitu pancasila. In berarti bahwa pendidikan
indonesia harus membawa peserta didik agar menjadi manusia yang berpancasila.
Dengan kata lain, landasan dan arah yang ingin diwujudkan oleh pendidikan di
Indonesi adalah yang sesuai dengan falsafak pancasila itu sendiri.
Nilai-nilai filsafat pancasila yang di anut bangsa Indonesia
dicerminkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional seperti tertuang dalam UU
No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, yaitu: pendidikan
nasional berdasarkan pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik
Indonesia tahun 1945.
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuanan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermamfaat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab ( pasal 2 dan 3).[8]
Rumusan tujuan tersebut merupakan keinginan luhur yang harus menjdi
inspirasi dan sumber bagi para guru, kpala sekolah, para pengaswas peendidikan,
para pembuat kebijakan pendidikan agar dalam merencanakan, melaksanakan, membina
dan mengembangkan kurikulum senantiasa konsekuen dan konsisten merefleksikan
nilai-nilai yang terkandung dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.
Melalui rumusan tujuan pendidikan nasioanal diatas, jelaslah bahwa
peserta didik yang ingin diasilkan oleh sistem pendidikan Indonesia antara lain
untuk memelihara manusia yang beriman, bertakwa, berilmu, dan beramal dalam
kondisi yang sersi, selaras dan seimbang. Disinilah pentingnya filsafat sebagai
pandangan hidup manusia dalam hubungannya dengan pendidikan dan pengajaran.
C.
Mamfaat Filsafat Pendidikan.
Filsafat pendidikan pada dasarnya adalah penerapan dari
pemikiran-pemikiran filsafat untuk memecahkan permasalahan pendidikan. Dengan
demikian filsafat memiliki mamfaat dan memberikan kontribusi yang besar
terutama dalam memberikan kajian sistematis berkenaan dengan kepentingan
pendidikan. Toto ruhimat mengambil pendapatnya Harun nasution dalam bukunya
memaparkan beberapa mamfaat filsafat pendidikan, yaitu:
1.
Filsafat
pendidikan dapat menetukan arah akan dibawa kemana anak-anak melalui pendidikan
disekolah?. Sekolah ialah suatu lembanga yang didirikan untuk mendidik
anak-anak kearah yang dicita-citakan oleh masyarakat, bangsa, dan negara.
2.
Dengan
adanya tujuan pendidikan yang diwarnai oleh filsafat yang dianut, kita mendapat
gambaran yang jelas tentang hasil yang harus dicapai. Manusia yang bagaimanakah
yang harus diwujudkan melalui usaha-usaha pendidikan itu?.
3.
Filsafat
dan tujuan pendidikan memberi kesatuan yang bulat kepada segala usaha
pendidikan.
4.
Tujuan
pendidikan memungkinkan si pendidik menilai usahanya, hingga manakah tujuan itu
tercapai.
5.
Tujuan
pendidikan memberikan motivasi atau dorongan bagi kegiatan-kegiatan pendidikan.[9]
D.
Kurikulum dan filsafat pendidikan.
Kurikulum pada hakikatnya adalah alat untuk mencapai tujuan
pendidikan. Karena tujuan penndidikan sangat dipengaruhi oleh filsafat atau
pandangan hidup suatu bangsa, maka kurikulum yang dikembangkan juga harus
mencerminkan falsafah atau pandangan hidup yang dianut oleh bangsa tersebut.
Oleh karena itu, terdapat hubungan yang sangat erat antara kurikulum pendidikan
di suatu negara dengan filsafat negara yang dianutnya.[10]
Sebagai contoh pada waktu indonesia dijajah oleh belanda, maka
kurikulum yang dianut pada waktu itu sangat berorientasi pada kepentingan
politik belanda. Demikian pula apada saat dijajah oleh jepang, maka orientasi
kurikulumnya di sesuaikan pada kepentingan dan sistem nilai yang dianut oleh
negara Matahari Terbit tersebut. Setelah indonesia mmencapai kemerdekaannya
secara bulat dan utuh menggunakan pancasila sebagai dasar dan falsafah hdup
dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara, maka kurikulum pendidikanpun
disesuaika dengan nilai-nilai itu sendiri. Perumusan tujuan pendidikan,
penyususan program pendidikan, pemilihan dan penggunaan pendekatan atau
setrategi pendidikn, pranan yang harus dilakukan pendidik atau peserta didik
senantiasa harus sesuai dengan falsafah hidup bangsa indonesia, yaitu
pancasila.
Keberadaan filsafat lainnya dalam pengembangan kurikulum di
Indoesia dapat digunakan sebagi acuan, akan tetapi hendaknya dipertibangkan dan
dikaji kesesuaiannya dengan nilai-nilai falsafah hdup bangsa Indonesia, karena
tidak semua konsep aliran filsafat dapat diadopsi dan diterapkan dalam sistem
pendidikan Indonesia.
E.
Aliran-aliran filsafat pendidikan.
Pengembangan kurikulum mebutuhkan filsafat sebagai acuan atau
landasan berfikir. Kajian-kajian filosofis tentang kurikulum akan berupaya
menjawab permasalahan-permasalahan sekitar, yaitu: Bagaimana seharusnya tujuan
pendidikan itu dirumuskan?, Isi atau materi pendidikan yang bagaimana yang
seharusnya di sajikan kepada siswa?, metode pendidikan apa yang seharusnya
digunakan ntuk mencapai tujuan pendidikan?, bagaimana peranan yang seharusnya
dilakukan oleh pendidik dan peserta didik?.[11]
Jawaban atas permasalahan tersebut akan sangat tergantung pada
landasan filsafat mana yang digunakan sebagai asumsi atau sebagai titik tolak
pengebangan kurikulum. Lansan filsafat tertentu beserta konsep-konsepnya yang
meliputi kosep metafisika,epistimologi, logika, dan aksiologi berimplikasi
terhadap konsep-konsep pendidikan yang meliputirumusan tujuan pendidikan, isi
pendidikan, metode pendidikan, peranan pendidik dan peserta didik. Konsep
tentang hakikat pengetahuan berimplikasi terhadap isi dan metode pendidikan.
Sedangkan aksiologi berimplikasi terutama terhadap tujuan umum pendidikan.[12]
Menurut Redja Mudyahardjo yang dikutip Toto Ruhimat dkk, terdapat
tiga sistem pemikiran filsafat yang sangat besar pengaruhnya dalam pemikiran
pendidikan pada umumnya, dan pendidikan indonesia pada khususnya, yaitu:
Idealisme, Realisme dan Pragmatisme. Ketiga aliran ini sangat berimplikasi
terhadap pendidikan sebagaimana dibawah ini.[13]
1.
Idealisme.
a.
Konsep-konsep
filsafat.
1.
Metafisika
(hakikat realitas): realitas atau kenyataan yang sebenarnya bersifat spiritual
atau lahiriah.
2.
Humanologi
(hakikat manusia): jiwa dikaruniai kemampuan berfikir/rasional. Kemampuan
berfikir menyebabkan adanya kemampuan memilih.
3.
Epistimologi
(hakikat pengetahuan): pengetahuan yang benar diperoleh melalui intuisi dan
pengingatan kembali melalui berfikir. Kebenaran mungkin hanya dapat dicapai
oleh beberapa orang yng empunyai akal pikiran emerlang, sebagian besar orang
hanya sampai pada tingkat pendapat.
4.
Aksiologi
(hakikat nilai): kehidupan manusia diatur oleh kewajiban moral yang diturunkan
dari pandangan tentang kenyataan atau metafisika. Hakikat nilai bersifat
absolut.
b.
Konsep-konsep
pendidikan.
1.
Tujuan
pendidikan: tujuan-tujuan pendidikan formal dan informal, pertama-tama adalah
pembentukan karakter dan kemudian tertuju pada pengembangan bakat dan kebijakan
sosial.
2.
Isi
pendidikan: pengembangan kemampuan berfikir mellui pendidikan liberal atau
pendidikan umum, penyiapan keterampilan bekerja sesuatu mata pencaharian
melalui pendidikan praktis.
3.
Metode
pendidikan: metode pendidikan yang disusun adalah metode dealiktik/dialogik,
meskipun demikian setiap metode yang efektif mendorong belajar data diterima
(efektif). Cendrung mengabaikan dasar-dasar fisiologis dalam belajar.
4.
Peranan
peserta didik dan pendidik: peserta didik bebas mengembangkan bakat
kperibadiannya. Pendidik bekerja sama dengan alam dalam proses pengembangan
kemampuan ilmiah. Tugas utama pendidik adalah menciptakan lingkungan yang
memungkinkan peserta didik dapat belajar secar efisien dan efektif.
2.
Realisme.
a.
Konsep-konsep
filsafat.
1.
Metafisika
(hakikat realitas): realitas atau kenyataan yang sebenarnya bersifat fisik atau
materi.
2.
Humanologi
(hakikat manusia): hakikat manusia terletak pada apa yang dikerjakannya. Jiwa
merupakan sebuah organisme yang sangat komplek yang mempunyai kemampuan
berfikir. Manusia mungkin mempunyai kebebasan atau tidak mempunyai kebebasan.
3.
Epistimologi
(hakikat pengetahuan): pengetahuan diperoleh dari pengindraan dengan
menggunakan pikiran. Kebenaran pegetahuan dapat dibuktikan dengan memeriksa
kesesuaiannya dengan fakta.
4.
Aksiologi
(hakikat nilai): tingkah laku manusia diatur dalam hukum alam yang diperoleh
melalui ilmu dan pada taraf yang lebih rendah diatur oleh kebiasaan-kebiasaan
atau adat istiadat yang telah teruji dalam kehidupan.
b.
Konsep-konesep
pendidikan.
1.
Tujuan
pendidikan: tujuan pendidikan adalah dapat menyesuaikan diri secara tepat dalam
hidup dan dapat melaksanakan tanggung jawab sosial.
2.
Isi
pendidikan: isi pendidikan adalah kurikulum komprehensip yang berisi sema pengetahuan
yang berguna bagi penyesuaian diri dalam hidup dan tanggung jawab sosial.
Kurikulum bersisi unsur-unsur pendidikan liberal/endidikan umum untuk
menentukan kemampua berfikir, dan pendidikan praktis untuk kepentingan bekerja.
3.
Metode
pendidikan didasarkan pada pengalaman langsung maupn tidak langsung. Metode
mengajar hendaknya bersifat logis, bertahap atau berurutan. Pembiasaan
merupakan metode pokok yang dipergunanak oleh penganut realisme.
4.
Peranan
peserta didik dan pendidik: dalam hubungannya dengan pembelajaran, peranan
peserta didik adalah menguasai pengetahuan yang dapat mengubah-ngubah. Peserta
didik perlu mempunyai disiplin mental dan moral untuk setiap tingkat kebijakan.
Peranan pendidik adalah menguasai pengetahuan, terampil dan teknik mendidik dan
memiliki kewanangan untuk mencapai hasil pendidikan yang dibebankan kepadanya.
3.
Pragmatisme.
a.
Konsep-konsep
filsafat.
1.
Metafiska
(hakikat realitas): suatu teori umum tentang kenyataan tidak mungkin dan tidak
perlu. Kenyataan yang sebenarnya adalah kenyataan fisik. Segala sesuatu dalam
alam dan kehidupan adalah berubah (Becoming).
2.
Humanologi
(hakikat manusia): manusa adalah hasil evolusi biologis, psikologis dan sosial.
Ini berarti setiap tahun tumbuh secar berangsur-angsur mencapai
kemampuan-kemampuan biologis, psikologis, dan sosial.
3.
Epistimologi
(hakikat pengetahuan): pengetahuan bersifat relatif dan terus berkembang.
Pengetahuan yang benar adalah yang ternyata berguna bagi kehidupan.
4.
Aksiologi
(hakikat nilai): ukuran tingkah laku perorangan dan sosial ditentukan secara
ekspirimental alam pengalaman-pengalaman hidup.ini tidak ada nilai yang
absolut.
b.
Konsep-konsep
pendidikan.
1.
Tujuan
pendidikan: tujan pendidikan adalah memperoleh pengalaman yang berguna untuk
memecahkan masalah-masalah baru dalam kehdupan perorangan dan masyarakat.
Tujuan pendidikan tidak ditentukan dari luar kegiatan pendidikan, tetapi
terdapat dalam proses pendidikan. Dengan demikian tujuan pendidikan adalah
pertumbuhan sepanjang hidup.
2.
Isi
pendidikan: isi pendidikan adalah kurikulum yang berisi pengalaman-pengalaman
yang telah teruji serta minat-minat dan kebutuhan anak, dan pendidikan liberal
yang menghilangkan pemisahan antara pendidikan umum dengan pendidikan
praktis/vokasional.
3.
Metode
pendidikan: berfikir reflektif atau metode pemecahan masala merupakan metode
utama, terdiri atas langka-langkah: penyadaran suatu masalah, observasi
kondisi-kondisi yang ada, perumusan dan elaborasi tentang suatu kesimpulan,
pengetesan melalui eksperimin.
4.
Peranan
peserta didik dan pendidik: peserta didik adalah sebua organisme yang rmit yang
mampu tumbuh. Peranan pendidik adalah mengawasi dan membimbing pengalaman
belajar tampa terlampau banyak mencampuri urusan minat dan kebutuhan peserta
didik.
4.
Progresivisme.
Dalam perkembangannya, istilah progresivisme di gunakan pula dalam
ruang pendidikan yang mencoba mengkritisi pendidikan tradisional. Teori
pendidikan progresivisme secar umum dipengaruhi filsafat pragmatisme, khusunya
pemikiran yang dilahirkan John Dewey. Itulah ciri khas pemikiran teori ini. Ia
tidak pernah menjadi sistem yang sistimatis dan konsisten, tetapi lbih banyak
berpusat pada eksperementasi-eksperimentasi yang berdasarkan
investigasi-inestigasi ilmiah sains modern. Hal itu sngat identik dalam
pemikiran filsafat Dewey yang memandang betapa pengalaman menjadi hal yang
pokok dan utama.[14]
Salah satu konsep pendidikn progresivisme yaitu prinsip pengajaran
yng terpusat pada anak, peran guru yang tidak otoritatif, pelibatan subjek
didik secara aktif, serta keberlasungan pelajaran bersifat deokratis. Namun di
akhir sejarahnya tahun 1950, setelah runtuhya kelembagaan yang menjadi motor
penggerknya, progresivisme tidak lagi tampak. Pada tahun 1970, muncul gerakan
baru yang mencoba mendaur ulang ide, gagasan progresif dalam humanisme
pendidikan. Namun humanisme ini mempunyai tekanan yang berbeda dalam duni pendidikan, yang mana
dalam perkembangannya juga dipengaruhi pemikiran esistensialisme. Namun meski
begitu yang menjadi kesamaan antara progresivesme dengan humanisme yaitu, dalam
peaksanaannya humanisme masih berdasarkan teori-teori pendidikannya pada
aspek-aspek pembelajaran subjek diri dari berbagai tindakan-tindakan yang oleh
mereka tidak dipandang represif dan tidak manusiawi.[15]
5.
Esensialisme.
Konsep pendidikan esensialisme yaitu dalam kegiatan pendidikan itu
atas dasar fleksibilitas, terbuka pada perubahan, toleran dan tidak ada terkait
dengan doktrin tertentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak
pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan da tahan lama yang memberikan
kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Ideaalisme
dan realisme adalah dua corak yang membentuk esensialisme.[16]
Dasar filosofi esensialisme terutama memandang bahwa setiap jenis
tertentu tidak lain adalah entitas yang memiliki seperangkat karakteristik dan
sifat yang berbeda. Menurut esensialisme tugas pendidikan tidak lain adalah
mengajarkan pengetahuan dasar dan keterampilan-keterampilan dasar yang
berkaitan dengan pemerolehan materi dalam hidup. Dalam perakteknya para
esensialisme cendrung menekankan sesuatu yang dikenal 3R, mulai dari reading,
writing, dan arithmetic (membaca, menulis dan menghitung). Tiga hal
ini dipandang sebagai pengetahuan dasar yang begitu di tekankan dalam
esensialisme.[17]
Dalam esensialisme, biasanya akan diajarkan beberapa mata pelajar
yang diatur mirip dengan membaca, menulis, sastra, bahasa asing, sejaraha,
matematika, sains, seni dan musik. Para guru dalam esensialis sangat berbeda
dengan dengan kalangan progresif yang sama sekali tidak otoritatif bahkan hanya
menjadi fasilitator, sebaliknya berupaya menjadi otoritatif.[18]
Esensialisme juga berupaya mengajar siswa dengan berbagai
pengetahuan sejarah melalui mata kuliah inti dalam disiplin akademis
tradisional. Selain itu juga menanamkan pengetahuan akademis, patriotisme, dan
pengembangan karakter. Pendekatan tradisional ini dimadsut untuk melatih
pikiran, mempromosikan penalaran, dan menjamin budaya umum.
6.
Parenialisme.
Teori pendidikan parenialisme baru diakui sekitar tahun 1930-an
disaat filsafat hadir sebagai bentuk reaksi keras terhadap kalangan progresif,
yang dinilai telah membuat pendidikan telah semakin jauh dari visi hidup yang
sebenarnya.
Istilah parenialisme berasal dari bahasa latin dari akar kata perenis
atau parenial (bahasa ingris) yang berarti tumbuh terus melalui
waktu, hidup terus dari waktu kewaktu atau abadi. Maka, pandaga selau
mempercayai mengenai adanya nilai-nilai, atau norma-norma yang bersifat abadi
dalam kehidupan ini.[19]
Teori pendidikan parenialisme memandang pendidikan sebagai jalan
kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang pada kebudayaan masa lampau.
Jadi, menurut parenialsme sikap untuk kembali kemasa lampau itu merupakan
konsep bagi parenialisme. Dengan kata lain, ia menganggap pentingnya pmbentukan
kebiasaan dalam pendidikan sekarang yang didasarkan pada kebiasaandan
kebudayaan pada masa lampau yang memiliki ilai dan idealis serta berguna.[20]
Menurut pandangan plato pendidikan sebagai proses menuntun
kemampuan-kemampuan yang tertidur (bakat terpendam) yang dimiliki seseorang
menjadi aktif tau nyata, tergantung pada kesadaran tiap-tiap individu yang
memiliki kemampuan tersebut.[21]
Perenialis berpendapat bahwa siswa adalah subjek sekaligus inti
dalam pelaksanaan pendidikan dan guru hanya bertugas menolong membangkitkan
potensi yang dimiliki anak didik yang masih tersembunyi agar menjadi aktif dan
nyata, bukan membentuk atau memmberikan kemampuan kepada anak didik.[22]
7.
Eksistensialisme.
Eksistensialisme merupakan filsafat yang secara husus mendeskripsikan
eksistensi dan pengalaman manusia dengan metodologi, fenomenologi atau cara
manusia berada. Menurtnya kebenaran bersifat relatif, karenanya masing-masing
individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya
benar.[23]
Eksistensialisme lebih memerhatikan pemahaman makna dan tujuan
hidup manusia ketimbang melakukan pemahaman terhadap kajian-kajian ilmiah dan
metafisika tentang alam semesta.kebebasan individu sebagai milik manusia adalah
sesuatu yang paling utama karena individu memiliki sikap hidup, tujuan hidup
dan cara hidup sendiri. Jadi eksisistensialisme adalah filsafat yang memberikan
kebebasan kepada setiap individu untuk mendapatkan pendidikan secara autentik
yang artinya setiap individu mempunyai tanggung jawab dan kesadaran diri untuk
mereka.[24]
8.
Rekonstruksionisme.
Rekontruksionisme berasal dari kata reconstruct yang berarti
menyusun kembali. Dalam konsep filsafat pendidikan, aliran rekontruksionisme
ini adalah suatu aliran yang beruas merombak tata susunan lama dan membangun
tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. [25]
Menurut pandangan rekontruksionisme,pendidikan perlu merombak
susunan hidup kebudayaan yang baru, untuk mencapai tujuan utama tersebut
memrlukan kerja sama antar ummat manusia. Oleh karenanya, pembinaan kembali daya
intelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui melalui
pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi genersi yang
akan datang sehingga membentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.[26]
Aliran ini mempersepsikan bahwa masa depan suatu bangsa merupakan
suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secar demokratis, bukan dunia
yang dikuasai oleh golongan tertentu. Nilai-nilai demokratis yang sungguh bukan
hanya teori, melainkan mesti menjadi kenyataan sehingga dapat diwujudkan suatu
dunia dengan potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan,
keejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tampa membedakan warna
ras, suku dan lain-lain.[27]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan.
Istilah filsafat merupakan terjemahan dari bahasa ingris “phylosophy”
yang erasal dari perpaduan dua kata yunani purba “philien” philien” yang
berarti cinta (love), dan “sophia” (wisdom) yang berarti
kebijaksanaan. Jadi secara etimologi filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau love
of wisdom. Berdasarkan ruang lingkup yang menjadi objek kajannya, filsafat
dapat di bagi kedalam dua cabang besar, yaitu: filsafat umum atau filsafat
murni dan filsafat khusus atau filsafat terapan.
Pandangan-pandangan filsafat sangat dibutuhkan dalam pendidikan,
terutama dalam menentukan arah dan tujuan pendidikan. Filsafat akan menentukan
kemana arah peserta didik akan di bawa.
Kurikulum pada hakikatnya adalah alat untuk mencapai tujuan
pendidikan. Karena tujuan penndidikan sangat dipengaruhi oleh filsafat atau
pandangan hidup suatu bangsa, maka kurikulum yang dikembangkan juga harus
mencerminkan falsafah atau pandangan hidup yang dianut oleh bangsa tersebut.
Aliran-aliran dalam filsafat pendidikan, yaitu:
9.
Idealisme.
Pengetahuan yang benar diperoleh melalui intuisi dan pengingatan
kembali melalui berfikir. Kebenaran mungkin hanya dapat dicapai oleh beberapa
orang yng empunyai akal pikiran emerlang, sebagian besar orang hanya sampai
pada tingkat pendapat. Tujuan-tujuan pendidikan formal dan informal,
pertama-tama adalah pembentukan karakter dan kemudian tertuju pada pengembangan
bakat dan kebijakan sosial.
10.
Realisme.
Pengetahuan diperoleh dari pengindraan dengan menggunakan pikiran.
Kebenaran pegetahuan dapat dibuktikan dengan memeriksa kesesuaiannya dengan
fakta. Tujuan pendidikan adalah dapat menyesuaikan diri secara tepat dalam
hidup dan dapat melaksanakan tanggung jawab sosial.
11.
Pragmatisme.
Pengetahuan bersifat relatif dan terus berkembang. Pengetahuan yang
benar adalah yang ternyata berguna bagi kehidupan. tujan pendidikan adalah
memperoleh pengalaman yang berguna untuk memecahkan masalah-masalah baru dalam
kehdupan perorangan dan masyarakat. Tujuan pendidikan tidak ditentukan dari
luar kegiatan pendidikan, tetapi terdapat dalam proses pendidikan. Dengan
demikian tujuan pendidikan adalah pertumbuhan sepanjang hidup.
12.
Progresivisme.
Menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada
peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan
landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
13.
Esensialisme.
Menekankan pentingnya
pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik
agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata
pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang
berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme,
essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.
14.
Parenialisme
Lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari
pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih
penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut
faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak
terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu
15.
Eksistensialisme.
menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan
makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri.
Aliran ini mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia ? Apa pengalaman itu
?
16.
Rekonstruksionisme.
Merupakan elaborasi
lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia
masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan
individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan
tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan
mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan
sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.
DAFTAR PUSTAKA
Gandhi WH,Teguh
Wangsa, Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: AR-Ruzz Media, 2011.
Idrakusuma,
Amir Daen, Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional, 1973.
Kurniasih dan
Tatang Syaripudin, Landasan Filosofis Pendidikan dan Landasa Pendidikan. Bandung:
Sub Koordinator MKDP Landasan Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, 2007
Mudyahardjo,
Redja, Landasan-Landasan Fisolofis Pendidikan. Bandung: Fakultas Ilmu
Pendidikan UPI, 2001.
Ruhimat, Toto, dkk, Kurikulum & Pembelajaran. Jakarta:
Rajawali Pers, 2012.
[1] Redja
Mudyahardjo, Landasan-Landasan Fisolofis Pendidikan, (Bandung: Fakultas Ilmu
Pendidikan UPI2001), hlm., 83.
[2] Toto Ruhimat,
dkk, Kurikulum & Pembelajaran, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm.,
17.
[3] Kurniasih dan Tatang
Syaripudin, Landasan Filosofis Pendidikan dan Landasa Pendidikan, (Bandung:
Sub Koordinator MKDP Landasan Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia,
2007), hlm., 73
[4] Toto, Kurikulum,
Ibid, hlm., 17
[5] Toto, Kurikulum,
Ibid, hlm., 18
[6] Ibid, hlm.,
19
[7] Amir Daen
Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional,
1973), hlm., 45
[8] Toto, Kurikulum,
Ibid, hlm., 20-21
[9] Toto, Kurikulum,
Ibid, hlm., 18-19
[10] Ibid, hlm.,
21-22
[11] Toto, Kurikulum,
Ibid, hlm., 22
[13] Toto, Kurikulum,
Ibid, hlm., 22
[14] Teguh Wangsa
Gandhi HW, Filsafat Pendidikan, (Jogjakarta: AR-Ruzz Media, 2011), hlm.,
155
[15] Teguh, Filsafat,
Ibid, hlm., 157
[17] Ibid, hlm.,
161
[18] Ibid, hlm.,
162
[19] Teguh, Filsafat,
Ibid, hlm., 163
[20] Ibid, hlm.,
165-166
[21] Ibid, hlm.,
168
[22] Teguh, Filsafat,
Ibid, hlm., 168
[23] Ibid, hlm.,
184
[24] Ibid, hlm.,
188-189
[25] Ibid, hlm.,
190
[26] Teguh, Filsafat,
Ibid, hlm., 190
[27] Ibid, hlm.,
190-191
Tidak ada komentar:
Posting Komentar