Rabu, 08 April 2015

Tradisi Dhammong




TRADISI DHAMMONG UNTUK MEMOHON DATANGNYA HUJAN


Masayarakat madura merupakan masyarakat yang terikat dengan norma-norma keagamaan yang sangat kental, termasuk juga di desa gapurana kecamatan Talango. Masayarakatnya relegius, menjungjung tinggi kebersamaan dan sangat optimis adalah ciri utama yang sangat menonjol. Hal ini terbukti di desa tersebut masih memegang teguh kepercayaan yang berbau mistis dalam kesehariannya, hingga tidak bisa di bedakan antara kepercayaan yang berbau mitos dengan magis. Salah satunya yaitu tradisi Dhammong yang diaktualisasikan dalam rangka untuk memohon datangnya hujan kepada Allah SWT. Menurut persepsi penulis tradisisi ini takkan mungkin bisa dihilangkan karena mengingat mayoritas  masyarakatnya adalah seorang petani.
Tradisi Dhammong ini merupakan sebuah ritual yang digunakan sebagai salah satu cara untuk memohon datangnya/turunnya hujan. Karena menurut kepercayaan masyarakat setempat disamping kita dituntut memohon langsung kepada Allah SWT juga di anjurkan memohon dengan memakai sebuah perantara yang dikenal dengan nama Tawassul.
Oleh sebab itu, tradisi ini masih direfleksikan hingga saat ini. Meski pada  awalnya menurut K. Sumatwi (Pangasepoh Masyarakat setempat) tradisi ini merupakan sebuah tradisi turun temurun dari nenek moyang manusia dan lebih tepatnya merupakan tradisi Hindu Budha. Tapi sejak Islam Masuk ke madura konsep Dhammong sudah banyak perubahan. Perubahan itu diakibatkan adanya asimilasi budaya dan pergeseran pradigma masyarakat setempat menuju sebuah pradigma Islam.
Tradisi Dhammong ini di lakukan oleh masyarakat setempat disebabkan pada saat musin hujan. Di mana masyarakat setempat mulai bercocok tanam tetapi pada suatu ketika hujan itu berhenti dan tak kunjung turun lagi, sehingga membuat tanamannya mulai layu dan mati, maka saat itulah masyarakat setempat berkumpul di suatu tempat yang dianggapnya keramat. Perkumpulan itu terdiri dari masyarakat setempat baik laki-laki, anak-anak dan perempuan. Dalam pelaksanaannya ada beberapa hal yang urgen dan dianggap sebuah faktor penentu keberhasilan dari sebuah Dhammong itu sendiri, diantaranya sebagai berikut:
a.       Kekompakan dalam melakukan Dhammong, khususnya dalam mngucapkan mantra-mantranya dengan suara yang keras.
b.      Dilaksanakan pada waktu tengah malam dan di tempat yang dianggap atau di percayai keramat seperti Bujuk.
c.       Adanya sesajen untuk Patogunah dan dibacakan Fatihah untuk para sepuh atau orang berpengaruh yang telah lebih dulu meninggal dunia.
d.      Dibacakan do’a untuk datangnya hujan diakhir ritual.
Dismamping itu, taradisi Dhammong ini juga dikenal sebagai pemberian sesajen terhadap Patogunah di saat masyarakat setempat akan melakukan cocok tanam dalam rangka untuk meminta restu agar di turunkannya hujan dan cocok tanam masyarakat setempat memiliki kualitas yang baik lagi banyak hasilnya atau bermamfaat.
Sejarah Tradisi Dhammong Pada Masyarakat Gapurana.
Asal mula tradisi Dhammong ini tidak ada data yang pasti, sebab tradisi Dhammong ini merupakan sebuah tradisi yang di lakukan oleh masyarakat setempat secara turun-temurun setiap musim cocok tanam yang nota benenya seorang petani.
Oleh karena itu dalam tulisan ini, penulis tidak dapat mnguraikannya secara pasti disertai bukti atau data yang emperik. Namun, dalam menganalisa sejarah tradisi Dhammong ini penulis menggunakan metodologi tanya jawab terhadap masyarakat setempat.
Menurut K. Sumatwi, salah satu Pangasepoh masyarakat setempat memaparkan bahwa tradisi Dhammong ini merupakan sebuah tradisi yang dilatar belakangi oleh tradisi kepercayaan sebelumnya, entah itu Hindu, Budha, Animsme atau yang lainnya. Tetapi yang berkembang di masyarakat setempat, sejarah Dhammong ini di awali dengan sebuah cerita yang diyakini kebenarannya. Yang mana konon katanya, di salah satu daerah Desa Gapurana ada seorang petapa yang sangat sakti. Petapa itu bertapa sampai ratusan tahun. Petapa sakti itu bisa menghilang dalam artian suatu ketika bila mau badannya tidak kelihatan. (Sekarag tempatnya itu dikenal dengan nama “Juk Larsi atau Bujuk Larsi”).
Pada suatu ketika disaat musim musim hujan dan masyarakat setempat sudah melakukan cocok tanam datanglah sebuah malapetaka yaitu hujam macet. Malapetaka ini meresahkan masyarakat setempat hingga pada akhirnya tepat tengah malem ada suara aneh dari tempat petapa itu. Dimana saat di dekati oleh sebagian masyarakat petapa itu melakukan sebuah pekerjaan yang tak dimengerti, berdiri teriak-teriak sambil membaca “Dhammong Garjem” dengan diulang-ulang, setelah beberapa lama kemudian langsung turun hujan dengan derasnya.
Diawali dengan kejadian seperti itu, masyarakat setempat mulai terbesit kepercayaan bahwa apa yang dilakukan petapa itu merupakan sebuah ritual untuk memohon datangnya hujan dan kemudian lama kelamaan masyarakat setempat mulai meniru pekerjaan atau ritual itu.
Pada awalnya tradisi ini masih murni dan masih belum bercampur baur dengan  yang berbau islam seperti halnya Fatihah dan pembacaan do’a diakhir ritual dan  hanyalah sebagian orang atau kampung saja yang melakukan ritual ini. Namun pada akhirnya tradisi ini mulai dikenal dan diterima oleh semua elemen masyarakat Gapurana setelah berenovasi dengan hiasan keislaman dan akhirnya dipertahankan hingga saat ini.
Bahan-bahan atau alat-alat yang digunakan dalam pelaksanaa Dhammong  dan Filosofinya.
1.      Nasi Empat Macam Warna.
Nasi empat warna ini dipilih untuk melambangkan penguasa empat penjuru arah mata angin yaitu: selatan, timur, utara, dan barat. Dalam pembuatan nasik ini di bentuk bulat dan ditaruk dalam satu wadah dengan menggunakan taker. Penaruhan dalam satu wadah ini melambangkan kerukunan dan tenggang rasa.
2.      Air dan kembang.
Pemilian bahan air disini melambangkan tujuan utama dalam proses Dhammong ini, yang mana tradisi ini merupakan sebuah ritual untuk memohon datangnya hujan. Sementara kembang ini diharapakan hujan yang turun kebumi membawa keharuman untuk masyarakat setempat dan bisa menjadi jalan yang menghantarkan pada kebahagiaan dalam artian bukan hujan yang membawa malapetaka.
3.      Tupa atau kemenyan.
Tupa atau kemenyan dalam tradisi ini dibakar diawal permulaan acara, yang mana filosofinya hampir sama dengan kembang yaitu diharapkan acara ini memberikan keharuman terhadap masyarakat setempat atau bermamfaat dan juga pengguanaan tupa atau kemenyan ini menandakan acara ritual sudah dimulai.
4.      Taker.
Taker  adalah bungkus yang terbuat dari lembaran daun pisang.. Lembaran ini mengisaratkan kebersamaan, kerukunan dalam menjalani kehidupan, begitu juga dengan pohon pisang yang tidak pernah tumbuh sendiri. Hal itu juga menunjukkan kebersamaan dalam hidup. Dalam pelaksanaannya daun pisang kemudian dibentuk wadah, mengingatkan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat itu harus terbentuk dan dalam satu rangkulan, satu wadah dalam rangka tujuan bersama. Hal ini terjemahan dari rasa keteguhan dalam kebersamaan dan konsisten dalam persatuan. Di dalam taker ini berisi alat-alat yang disebutkan diatas diantaranya: Nasi empat macam warna, air dan kembang kecuali tupa atau kemenyan, karena tupa atau kemenyan digunakan sebagai tanda permulaan atau dimulainya ritual tersebut.
5.      Nasi biasa, jajan, kopi dan lain-lain.
Poin nomer lima ini merupakan sebuah tambahan dari masyarakat yang ikut dalam pelaksanaan Dhammong. Di mana bukanlah syarat atau bahan yang dijadikan standarisasi kesuksesan Dhammong.Namun hanyalah bahan yang digunakan sekedar untuk menghilangkan rasa capek setelah melakukan sebuah ritual Dhammong. Dan biasanya dimakan secara bersama diakhir acara ritual atau sebelum pulang.
Pelaksanaan Dhammong pada masyarakat Gapurana.
Pelaksanaan Dhammong ini di mulai pada tengah malam, diawali dengan berkumpulnya masyarakat di suatu tempat yang dianggap keramat. Bisanya pelaksanaan ini berbentuk semacam lingkaran dan di dalamnya ada pemetaan antar laki-laki dan perempuan, kemudian dipimpin oleh salah seorang yang dianggapnya sepuh untuk membacakan Al-Fatihah dan dihususkan untu para pendahulu-pendahulunya, setalah itu kemudian dilanjutkan dengan pembacaan “Dhammong Garjem” secara berulang-ulang seperti halnya tahlilan. Namun dalam pelaksanaan Dhammong ini anehnya para hadirin yang ikut dalam rentetan acaranya tidak boleh duduk selama pelaksanaan ritual berlangsung. Pelaksanaan ini baru diakhiri setelah terbitnya fajar (kalau sekarang sampai adzan subuh).
Sementara untuk takarnya yang telah berisi nasi, air dan kembang itu di taruh di atas batu atau digantung disamping pusat tempat yang dianggap keramat itu. Kemudian di akhir acaranya diakhiri dengan pembacaan do’a yang dipimpin juga oleh seorang yang juga dianggapnya sepuh tetapi dengan syarat bukanlah orang yang telah memimpin mulai tadi. Pembacaan doa ini diamini oleh seluruh hadirin yang ikut dalam pelaksanaan Dhammong ini. Kemudian acara Dhammong sudah dianggap selesai dan dilanjutkan dengan makan bersama.
Dampak Dhammong Terhadap sistem Kehidupan Masyarakat Gapurana.
Pelaksanaan Dhammong ini diyakini oleh masyarakat setempat sebagi salah satu cara untuk memohon datangnya hujan. Yang mana dalam pelaksanaannya yang diuggulkan adalah kebersamaannya, sebab merupakan sebuah syarat kesuksesan Dhammong itu sendiri.
Secara faktual dapat dilihat dalam pelaksanaannya tersebut maka dampak Dhammong terhadap sistem kehidupan masyarakat gapurana berperan penting khusunya sebagai tali penyambung silaturrahmi antar keluarga dalam rangkan untuk menyatukan kometmen dan kebersamaan seperti halnya filosofi adanya taker tersebut. Di mana dijalaskan diatas salah satunya yaitu merupakan manifestasi dari keteguhan dalam persatuan dan konsisten dalam kebersamaan.
Jadi tak ayal jika dalam sitem kehidupan masyarakat Gapurana sampai saat ini masih sangat menjungjung tinggi kebersamaan dan silaturrahmi, sebab, salah satun faktor pendukungnya yaitu tradisi Dhammong ini.
Tradisi Dhammong perspektif Islam.
Jika ditinjau kembali taradisi Dhammong ini kebelakang jauh yang telah turun-temurun dilaksanakan oleh masyarakat Gapurana, maka sebenarnya dalam konsep islam memang tidak ada. Karena awalnya merupakan sebuah cerita atau metos yang tak bisa dipercaya kebenarannya.
Begitu juga dalam konsep pelaksanaannya tempat keramat, patogunah, sessajen, mantra yang dibaca dan semacamnya merupak sebuah perbuatan yang bisa mngusik keimanan hati kita terhadap Allha SWT. Karena dalam konsep islam tradisi seperti ini tidak ada, bisa jadi karena semakin yakinnya akan kebenarannya barangkali karena disaat melakukan ritual ini kebetulan turun hujan sehingga sampai menafikan kuasa Allah SWT dengan konsepnya yaitu solat Istisqo’.
Hal inilah benih-benih yang bisa merusak konsep keimanan dalam islam. Jika sudah demikian maka dapat dikatakan bahwa prilaku masyarakat setempat dianggap bersalah. Allah SWT berfirman dalam Alqur’an surat Al-jin ayat 06 yaitu:
¼çm¯Rr&ur tb%x. ×A%y`Í z`ÏiB ħRM}$# tbrèŒqãètƒ 5A%y`̍Î/ z`ÏiB Çd`Ågø:$# öNèdrߊ#tsù $Z)ydu ÇÏÈ  
Artinya: “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan[1] kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”.
Namun dalam hal ini penulis tidak langsung memvonis bahwa apa yang dilakukan oleh masyarakat gapurana adalah salah dan keluar dari koridor islam. Sebab kalau diamati lebih lanjut proses pelaksanaan Dhammong ini diawali dengan pembacaan Al-Fatihan dan ditutup dengan do’a.
Begitu juga dalam tinjaun yang lainnya seperti halnya yang dikatakan oleh K. Sumatwi diatas bahwasannya dalam konsep islam Ahlussunnah Waljamaah dalam kitab Mafahim An Tasohhah, masalah tawassul itu diperbolehkan sebab hanyalah sebuah peranntara untuk sampai kepada yang di madsut dan yang terpenting tujuan dalam memohon hanyalah kepada Allah SWT.

Sumber Observasi:
1.      K. Sumatwi (Pangasepuh masyarakat setempat).
2.      Orang tua/ Keluarga.
Metodologi yang digunakan:
1.      Sering dan tanya jawab.
Rumusan Masalah:
Yang dijadikan sebagai acuan dalam pertanyaan atau arah pebicaraan dalam memperoleh data.
1.      Sejarah lahirnya tradisi Dhammong.
2.      Bahan atau alat-alat yang digunakan dalam pelaksanaan Dhammong.
3.      Konsep pelaksanaan Dhammong.
4.      Dampak pelaksanaan Dhammong terhadap sistem kehidupan masyarakat.
5.      Pandangan masyarakat setempat yang notabenenya masyarakat muslim terhadap pelaksanaan Dhammong.




[1] Ada di antara orang-orang Arab bila mereka melintasi tempat yang sunyi, Maka mereka minta perlindungan kepada jin yang mereka anggap Kuasa di tempat itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar