TRADISI DHAMMONG UNTUK MEMOHON DATANGNYA HUJAN
Masayarakat madura merupakan masyarakat yang terikat dengan
norma-norma keagamaan yang sangat kental, termasuk juga di desa gapurana
kecamatan Talango. Masayarakatnya relegius, menjungjung tinggi kebersamaan dan
sangat optimis adalah ciri utama yang sangat menonjol. Hal ini terbukti di desa
tersebut masih memegang teguh kepercayaan yang berbau mistis dalam
kesehariannya, hingga tidak bisa di bedakan antara kepercayaan yang berbau
mitos dengan magis. Salah satunya yaitu tradisi Dhammong yang
diaktualisasikan dalam rangka untuk memohon datangnya hujan kepada Allah SWT.
Menurut persepsi penulis tradisisi ini takkan mungkin bisa dihilangkan karena
mengingat mayoritas masyarakatnya adalah
seorang petani.
Tradisi Dhammong ini merupakan sebuah ritual yang digunakan
sebagai salah satu cara untuk memohon datangnya/turunnya hujan. Karena menurut
kepercayaan masyarakat setempat disamping kita dituntut memohon langsung kepada
Allah SWT juga di anjurkan memohon dengan memakai sebuah perantara yang dikenal
dengan nama Tawassul.
Oleh sebab itu, tradisi ini masih direfleksikan hingga saat ini.
Meski pada awalnya menurut K. Sumatwi (Pangasepoh
Masyarakat setempat) tradisi ini merupakan sebuah tradisi turun temurun dari
nenek moyang manusia dan lebih tepatnya merupakan tradisi Hindu Budha. Tapi
sejak Islam Masuk ke madura konsep Dhammong sudah banyak perubahan.
Perubahan itu diakibatkan adanya asimilasi budaya dan pergeseran pradigma
masyarakat setempat menuju sebuah pradigma Islam.
Tradisi Dhammong ini di lakukan oleh masyarakat setempat
disebabkan pada saat musin hujan. Di mana masyarakat setempat mulai bercocok
tanam tetapi pada suatu ketika hujan itu berhenti dan tak kunjung turun lagi, sehingga
membuat tanamannya mulai layu dan mati, maka saat itulah masyarakat setempat berkumpul
di suatu tempat yang dianggapnya keramat. Perkumpulan itu terdiri dari
masyarakat setempat baik laki-laki, anak-anak dan perempuan. Dalam pelaksanaannya
ada beberapa hal yang urgen dan dianggap sebuah faktor penentu keberhasilan
dari sebuah Dhammong itu sendiri, diantaranya sebagai berikut:
a.
Kekompakan
dalam melakukan Dhammong, khususnya dalam mngucapkan mantra-mantranya
dengan suara yang keras.
b.
Dilaksanakan
pada waktu tengah malam dan di tempat yang dianggap atau di percayai keramat
seperti Bujuk.
c.
Adanya
sesajen untuk Patogunah dan dibacakan Fatihah untuk para sepuh atau
orang berpengaruh yang telah lebih dulu meninggal dunia.
d.
Dibacakan
do’a untuk datangnya hujan diakhir ritual.
Dismamping itu, taradisi Dhammong ini juga dikenal
sebagai pemberian sesajen terhadap Patogunah di saat masyarakat setempat
akan melakukan cocok tanam dalam rangka untuk meminta restu agar di turunkannya
hujan dan cocok tanam masyarakat setempat memiliki kualitas yang baik lagi
banyak hasilnya atau bermamfaat.
Sejarah Tradisi Dhammong Pada Masyarakat Gapurana.
Asal mula tradisi Dhammong ini tidak ada data yang pasti,
sebab tradisi Dhammong ini merupakan sebuah tradisi yang di lakukan oleh
masyarakat setempat secara turun-temurun setiap musim cocok tanam yang nota
benenya seorang petani.
Oleh karena itu dalam tulisan ini, penulis tidak dapat
mnguraikannya secara pasti disertai bukti atau data yang emperik. Namun, dalam
menganalisa sejarah tradisi Dhammong ini penulis menggunakan metodologi
tanya jawab terhadap masyarakat setempat.
Menurut K. Sumatwi, salah satu Pangasepoh masyarakat
setempat memaparkan bahwa tradisi Dhammong ini merupakan sebuah tradisi
yang dilatar belakangi oleh tradisi kepercayaan sebelumnya, entah itu Hindu,
Budha, Animsme atau yang lainnya. Tetapi yang berkembang di masyarakat setempat,
sejarah Dhammong ini di awali dengan sebuah cerita yang diyakini
kebenarannya. Yang mana konon katanya, di salah satu daerah Desa Gapurana ada
seorang petapa yang sangat sakti. Petapa itu bertapa sampai ratusan tahun.
Petapa sakti itu bisa menghilang dalam artian suatu ketika bila mau badannya
tidak kelihatan. (Sekarag tempatnya itu dikenal dengan nama “Juk Larsi atau
Bujuk Larsi”).
Pada suatu ketika disaat musim musim hujan dan masyarakat setempat
sudah melakukan cocok tanam datanglah sebuah malapetaka yaitu hujam macet.
Malapetaka ini meresahkan masyarakat setempat hingga pada akhirnya tepat tengah
malem ada suara aneh dari tempat petapa itu. Dimana saat di dekati oleh
sebagian masyarakat petapa itu melakukan sebuah pekerjaan yang tak dimengerti,
berdiri teriak-teriak sambil membaca “Dhammong Garjem” dengan
diulang-ulang, setelah beberapa lama kemudian langsung turun hujan dengan
derasnya.
Diawali dengan kejadian seperti itu, masyarakat setempat mulai
terbesit kepercayaan bahwa apa yang dilakukan petapa itu merupakan sebuah ritual
untuk memohon datangnya hujan dan kemudian lama kelamaan masyarakat setempat
mulai meniru pekerjaan atau ritual itu.
Pada awalnya tradisi ini masih murni dan masih belum bercampur baur
dengan yang berbau islam seperti halnya
Fatihah dan pembacaan do’a diakhir ritual dan hanyalah sebagian orang atau kampung saja yang
melakukan ritual ini. Namun pada akhirnya tradisi ini mulai dikenal dan
diterima oleh semua elemen masyarakat Gapurana setelah berenovasi dengan hiasan
keislaman dan akhirnya dipertahankan hingga saat ini.
Bahan-bahan atau alat-alat yang digunakan dalam pelaksanaa Dhammong dan Filosofinya.
1.
Nasi
Empat Macam Warna.
Nasi empat warna ini dipilih untuk melambangkan penguasa empat
penjuru arah mata angin yaitu: selatan, timur, utara, dan barat. Dalam
pembuatan nasik ini di bentuk bulat dan ditaruk dalam satu wadah dengan
menggunakan taker. Penaruhan dalam satu wadah ini melambangkan kerukunan dan
tenggang rasa.
2.
Air
dan kembang.
Pemilian bahan air disini melambangkan tujuan utama dalam proses Dhammong
ini, yang mana tradisi ini merupakan sebuah ritual untuk memohon datangnya
hujan. Sementara kembang ini diharapakan hujan yang turun kebumi membawa
keharuman untuk masyarakat setempat dan bisa menjadi jalan yang menghantarkan
pada kebahagiaan dalam artian bukan hujan yang membawa malapetaka.
3.
Tupa
atau kemenyan.
Tupa atau kemenyan dalam tradisi ini dibakar diawal permulaan
acara, yang mana filosofinya hampir sama dengan kembang yaitu diharapkan acara
ini memberikan keharuman terhadap masyarakat setempat atau bermamfaat dan juga
pengguanaan tupa atau kemenyan ini menandakan acara ritual sudah dimulai.
4.
Taker.
Taker adalah bungkus yang
terbuat dari lembaran daun pisang.. Lembaran ini mengisaratkan kebersamaan,
kerukunan dalam menjalani kehidupan, begitu juga dengan pohon pisang yang tidak
pernah tumbuh sendiri. Hal itu juga menunjukkan kebersamaan dalam hidup. Dalam
pelaksanaannya daun pisang kemudian dibentuk wadah, mengingatkan bahwa dalam
kehidupan bermasyarakat itu harus terbentuk dan dalam satu rangkulan, satu
wadah dalam rangka tujuan bersama. Hal ini terjemahan dari rasa keteguhan dalam
kebersamaan dan konsisten dalam persatuan. Di dalam taker ini berisi alat-alat
yang disebutkan diatas diantaranya: Nasi empat macam warna, air dan kembang kecuali
tupa atau kemenyan, karena tupa atau kemenyan digunakan sebagai tanda permulaan
atau dimulainya ritual tersebut.
5.
Nasi
biasa, jajan, kopi dan lain-lain.
Poin nomer lima ini merupakan sebuah tambahan dari masyarakat yang
ikut dalam pelaksanaan Dhammong. Di mana bukanlah syarat atau bahan yang
dijadikan standarisasi kesuksesan Dhammong.Namun hanyalah bahan yang
digunakan sekedar untuk menghilangkan rasa capek setelah melakukan sebuah
ritual Dhammong. Dan biasanya dimakan secara bersama diakhir acara
ritual atau sebelum pulang.
Pelaksanaan Dhammong pada masyarakat Gapurana.
Pelaksanaan Dhammong ini di mulai pada tengah malam, diawali
dengan berkumpulnya masyarakat di suatu tempat yang dianggap keramat. Bisanya
pelaksanaan ini berbentuk semacam lingkaran dan di dalamnya ada pemetaan antar
laki-laki dan perempuan, kemudian dipimpin oleh salah seorang yang dianggapnya
sepuh untuk membacakan Al-Fatihah dan dihususkan untu para
pendahulu-pendahulunya, setalah itu kemudian dilanjutkan dengan pembacaan “Dhammong
Garjem” secara berulang-ulang seperti halnya tahlilan. Namun dalam
pelaksanaan Dhammong ini anehnya para hadirin yang ikut dalam rentetan
acaranya tidak boleh duduk selama pelaksanaan ritual berlangsung. Pelaksanaan
ini baru diakhiri setelah terbitnya fajar (kalau sekarang sampai adzan subuh).
Sementara untuk takarnya yang telah berisi nasi, air dan kembang
itu di taruh di atas batu atau digantung disamping pusat tempat yang dianggap
keramat itu. Kemudian di akhir acaranya diakhiri dengan pembacaan do’a yang dipimpin
juga oleh seorang yang juga dianggapnya sepuh tetapi dengan syarat bukanlah
orang yang telah memimpin mulai tadi. Pembacaan doa ini diamini oleh seluruh
hadirin yang ikut dalam pelaksanaan Dhammong ini. Kemudian acara Dhammong
sudah dianggap selesai dan dilanjutkan dengan makan bersama.
Dampak Dhammong Terhadap sistem Kehidupan Masyarakat
Gapurana.
Pelaksanaan Dhammong ini diyakini oleh masyarakat setempat
sebagi salah satu cara untuk memohon datangnya hujan. Yang mana dalam
pelaksanaannya yang diuggulkan adalah kebersamaannya, sebab merupakan sebuah
syarat kesuksesan Dhammong itu sendiri.
Secara faktual dapat dilihat dalam pelaksanaannya tersebut maka dampak
Dhammong terhadap sistem kehidupan masyarakat gapurana berperan penting
khusunya sebagai tali penyambung silaturrahmi antar keluarga dalam rangkan
untuk menyatukan kometmen dan kebersamaan seperti halnya filosofi adanya taker
tersebut. Di mana dijalaskan diatas salah satunya yaitu merupakan manifestasi
dari keteguhan dalam persatuan dan konsisten dalam kebersamaan.
Jadi tak ayal jika dalam sitem kehidupan masyarakat Gapurana sampai
saat ini masih sangat menjungjung tinggi kebersamaan dan silaturrahmi, sebab,
salah satun faktor pendukungnya yaitu tradisi Dhammong ini.
Tradisi Dhammong perspektif Islam.
Jika ditinjau kembali taradisi Dhammong ini kebelakang jauh
yang telah turun-temurun dilaksanakan oleh masyarakat Gapurana, maka sebenarnya
dalam konsep islam memang tidak ada. Karena awalnya merupakan sebuah cerita
atau metos yang tak bisa dipercaya kebenarannya.
Begitu juga dalam konsep pelaksanaannya tempat keramat, patogunah,
sessajen, mantra yang dibaca dan semacamnya merupak sebuah perbuatan yang
bisa mngusik keimanan hati kita terhadap Allha SWT. Karena dalam konsep islam
tradisi seperti ini tidak ada, bisa jadi karena semakin yakinnya akan
kebenarannya barangkali karena disaat melakukan ritual ini kebetulan turun
hujan sehingga sampai menafikan kuasa Allah SWT dengan konsepnya yaitu solat Istisqo’.
Hal inilah benih-benih yang bisa merusak konsep keimanan dalam
islam. Jika sudah demikian maka dapat dikatakan bahwa prilaku masyarakat
setempat dianggap bersalah. Allah SWT berfirman dalam Alqur’an surat Al-jin
ayat 06 yaitu:
¼çm¯Rr&ur tb%x. ×A%y`Í z`ÏiB ħRM}$# tbrèqãèt 5A%y`ÌÎ/ z`ÏiB Çd`Ågø:$# öNèdrß#tsù $Z)ydu ÇÏÈ
Artinya: “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara
manusia meminta perlindungan[1]
kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka
dosa dan kesalahan”.
Namun dalam hal ini penulis tidak langsung memvonis bahwa apa yang
dilakukan oleh masyarakat gapurana adalah salah dan keluar dari koridor islam.
Sebab kalau diamati lebih lanjut proses pelaksanaan Dhammong ini diawali
dengan pembacaan Al-Fatihan dan ditutup dengan do’a.
Begitu juga dalam tinjaun yang lainnya seperti halnya yang
dikatakan oleh K. Sumatwi diatas bahwasannya dalam konsep islam Ahlussunnah
Waljamaah dalam kitab Mafahim An Tasohhah, masalah tawassul itu
diperbolehkan sebab hanyalah sebuah peranntara untuk sampai kepada yang di
madsut dan yang terpenting tujuan dalam memohon hanyalah kepada Allah SWT.
Sumber Observasi:
1.
K.
Sumatwi (Pangasepuh masyarakat setempat).
2.
Orang
tua/ Keluarga.
Metodologi yang digunakan:
1.
Sering
dan tanya jawab.
Rumusan Masalah:
Yang dijadikan sebagai acuan dalam pertanyaan atau arah pebicaraan
dalam memperoleh data.
1. Sejarah lahirnya tradisi Dhammong.
2. Bahan atau alat-alat yang digunakan dalam pelaksanaan Dhammong.
3. Konsep pelaksanaan Dhammong.
4. Dampak pelaksanaan Dhammong terhadap sistem kehidupan
masyarakat.
5. Pandangan masyarakat setempat yang notabenenya masyarakat muslim
terhadap pelaksanaan Dhammong.
[1] Ada
di antara orang-orang Arab bila mereka melintasi tempat yang sunyi, Maka mereka
minta perlindungan kepada jin yang mereka anggap Kuasa di tempat itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar