Rabu, 08 April 2015

Makalah Taqlid dan Ittiba'



DAFTAR ISI
Kata pengantar........................................................................................... *
Daftar isi..................................................................................................... 1
Bab I........................................................................................................... 2
Pendahuluan............................................................................................... 2
A.    Latar belakang masalah.................................................................. 2
B.     Rumusan masalah........................................................................... 2
C.     Tujuan masalah............................................................................... 2
Bab II......................................................................................................... 3
Pembahasan................................................................................................ 3
A.    Taqlid.............................................................................................. 3
a.       Pengertian Taqlid...................................................................... 3
b.      Macam-macam Taqlid.............................................................. 4
c.       Syarat-syarat Taqlid.................................................................. 6
B.     Ittiba’.............................................................................................. 8
a.       Penegrtian ittiba’...................................................................... 8
b.      Dasar hukum dan hukum Ittiba’............................................... 8
Bab III....................................................................................................... 11
Penutup...................................................................................................... 11
A.    Kesimpulan.................................................................................... 11
A.    Taqlid....................................................................................... 11
B.     Ittiba’....................................................................................... 12
Daftar pustaka........................................................................................... 13



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang masalah.
Ilmu Ushul Fiqh merupakan metode dalam menggali dan menetapkan hukum, ilmu ini sangat berguna untuk membimbing para mujtahid dalam mengistimbatkan hukum syara’ secara benar dan dapat dipertanggung jawabkan hasilnya. Melalui ushul fiqh dapat ditemukan jalan keluar dalam menyelesaikan dalil-dalil yang kelihatannya bertentangan dengan dalil lainnya.
Dalam ushul fiqh juga dibahas masalah taklid dan ittiba’. Keduanya memiliki arti yang berbeda dan maksudnya pun berbeda. Namun tidak jarang kita temukan dalam pengaplikasiannya di masyarakat muslim masih dicampuradukan antara taqlid dan ittiba’.
Oleh karena itu penting kiranya dalam makalah ini penulis uraikan kembali hal-hal yang berkenaan dengan taqlid dan ittiba’ sebagai langkah  awal menuju muslim sejati sesuai dengan perintah rasulallah SAW.

B.     Rumusan masalah.
a.       Pengertian, macam-macam serta hukumnya dan syarat-syarat Taqlid?
b.      Pengertian, dasar hukum dan hukum Ittiba’?

C.    Tujuan masalah.
Tujuan dari makalah ini yang pertama yaitu diharapkan dapat memberikan sumbangsi pemahaman kepada para pembaca dalam masalah taqlid dan ittiba’.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Taqlid.
a.      Pengertian Taqlid
Taqlid menurut ahli bahasa, diambil dari kata-kata “qiladah” (kalung), yaitu sesuatu yang digantungkan atau dikalungkan seseorang kepada orang lain. Contoh penggunaannya dalam bahasa Arab, yaitu taqlid al-hady (mengalungi hewan kurban). Seseorang yang bertaqlid, dengan taqlidnya itu seolah-olah menggantungkan hukum yang diikutinya dari seorang mujtahid.[1]
Menurut istilah agama, taqlid yaitu menerima suatu ucapan orang lain serta memperpegangi tentang suatu hukum agama dengan tidak mengetahui keterangan-keterangan dan alasan-alasannya. Orang yang menerima cara tersebut disebut muqallid.[2]
Menurut imam Al ghazali dalam al mustashfa menerangkan bahwa:
التقليد قبول قول بغير حجة وليس طريقا للعلم لافي الاصول ولافي الفروع
Artnya: taqlid adalah menerima perkataan tampa hujjah dan tiadalah taqlid itu menjadi jalan kepada pengetahuan (keyakinan), baik urusan ushul maupun dalam usrusan furu’
Dan juga menurut abu syam, guru annawawi seorang ulama’ terkenal dengan madzhab syafi’i dalam kitab al muammal dikatakan:
والتقليد لغير الرسول صلى الله عليه وسلم حرام
Artinya: bertaqlid kepada selain rasulallah SAW, haram (diharamkan).[3]
Mengenai berbagai pertanyaan yang terjadi dikalangan umat muslim mengenai bagaimana kalau yang diambil atau yang diterima itu adalah perbuaatan, bukan ucapan atau pendapat, maka Al- Mahalli yanga mensyarah kitab jam’ul al-jawami’ menjelaskan bahwa menerima atau mengambil selain ucapan, baik dalam bentuk perbuatan atau pengalaman tidak dikatakan taqlid. Dan juga menegenai suatu hal dalam penerimaannya ada hujjahnya atau mengetahui dalilnya maka cara tersebut tidak dikatakan taqlid dengan alasan merupakan karya ijtihad yang kebetulan hasilnya bersamaan dengan yang diikutinya.
Ibnu al-Hummam (dari kalangan ulamak hanafiyah) memberikan definisi lebih lengkap yang menjelaskan kesamaran yaitu beramal dengan pedapat seseorang yang pendapatnya itu bukan merupakan hujjah dan tampa mengetahui hujjahnya. Sehubungan dengan definisi ini maka menerima pendapat nabi yang bernilai hujjah dengan sendirinya begitu juga menerima pendapat yang lahir deri kesepakatan dalam ijma’ tidak disebut taqlid meskipun dalam penerimaannya tampa mengetahui dalilnya. Sebaliknya, pendapat pendapat mujtahid secara perorangan adalah bukan hujjah, maka bila seseorang mengikuti pendapat mujtahid tampa menegetahi dalilnya disebut taqlid.
b.      Macam-macam taqlid serta hukumnya.
Mengenai hukum taqlid itu mutlak batal bahkan menurut Ibnu Haz terlarangnya taqlid itu sudah ijma’ ulama’. Mereka bersandaran ayat alqur’an surat Al-isyra’ ayat 36.
Ÿwur ß#ø)s? $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ íOù=Ïæ 4 ¨bÎ) yìôJ¡¡9$# uŽ|Çt7ø9$#ur yŠ#xsàÿø9$#ur @ä. y7Í´¯»s9'ré& tb%x. çm÷Ytã Zwqä«ó¡tB ÇÌÏÈ  
Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.[4]
 Namun meski begitu dalam pengaplikasikannya terbagi kepada tiga macam, yaitu taqlid yang diperbolehkan dengan syarat, taqlid yang dilarang atau haram dan taqlid yang diwajibkan, yaitu sebagai berikut:
a)      Taqlid yang diperbolehkan atau mubah.
Taqlid yang diperbolehkan atau mubah yaitu taqlid bagi orang-orang awam yang belum sampai pada tingkatan sanggup mengkaji dalil dari hukum-hukum syariat atau hanya terbatas pada masalah furu’iyah, sedangkan dalam masalah usuluddin kebanyakan uamak berpendapat tidak boleh bertaqlid hal ini dikuatkan oleh Al-razi dengan dalilnya surat muhammad ayat sebagai berikut:
óOn=÷æ$$sù ¼çm¯Rr& Iw tm»s9Î) žwÎ) ª!$# öu ......
Artinya: “Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan / Tuhan) selain Allah....”
Ayat ini menerangkan bahwa wajib mengetahui Allah. Dalam artian mengetahui kepada keyakinan dan itu hanya dapat diketahui dengan ilmu oleh sebab itu maka menurut Al-razi harus mengetahui dalilnya.
 Sebagaimana yang dikatakan Imam Hasan Al-Bana mengenai taqlid ini, menurut beliau taqlid adalah sesuatu yang mubah dan diperbolehkan oleh syariat, namun meski demikian, hal itu tidak berlaku bagi semua manusia. Akan tetapi hanya dibolehkan bagi setiap muslim yang belum sampai pada tingkatan an-nazhr atau tidak memiliki kemampuan untuk mengkaji dalil dari hukum-hukum syariat, yaitu bagi orang awam yang awam sekali dan yang serupa dengan mereka, yang tidak memiliki keahlian dalam mengkaji dalil-dalil hukum, atau kemampuan untuk menyimpulkan hukum dari al-Quran dan Sunnah, serta tidak mengetahui ijma dan qiyas.
b)      Taqlid yang dilarang atau haram.
Taqlid yang dilarang atau haram yaitu bagi orang-orang yang sudah mencapai tingakatan an-nazhr atau yang sanggup mengkaji hukum-hukum syariat. Ada beberapa taqlid yang dilarang ini antara lain :
Ø  Taqlid buta (tidak mau memperdulikan ayat tuhan lantaran orang tua.
Taqlid buta yaitu memahami suatu hal dengan cara mutlaq dan membabi buta tanpa memperhatikan ajaran al-Quran dan Hadis, seperti menaqlid orang tua atau masyarakat walaupun ajaran tersebut bertentangan dengan ajaran al-Quran dan Hadis. Firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 170 :
#sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% ãNßgs9 (#qãèÎ7®?$# !$tB tAtRr& ª!$# (#qä9$s% ö@t/ ßìÎ6®KtR !$tB $uZøxÿø9r& Ïmøn=tã !$tRuä!$t/#uä 3 öqs9urr& šc%x. öNèdät!$t/#uä Ÿw šcqè=É)÷ètƒ $\«øx© Ÿwur tbrßtGôgtƒ ÇÊÐÉÈ
Artinya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?".                                   
Firman Allah di atas tegas mencela terhadap orang-orang yang bertaqlid yakni orang yang menerima hukum-hukum agama dengan membabi tuli atau buta.
Ø  Taqlid terhadap orang-orang yang tidak kita ketahui apakah mereka ahli atau tidak tentang suatu hal yang kita ikuti.
Ø  Taqlid terhadap seseorang yang telah memperoleh hujjah dan dalil bahwa pendapat orang yang kita taqlidi itu bertentangan dengan ajaran Islam atau sekurang-kurangnya dengan al-Quran dan Hadis. Namun, boleh bertaqlid terhadap suatu pendapat, garis-garis hukum tentang soal-soal dari seorang mujtahid yang betul-betul mengetahui hukum-hukum Allah dan Rasul.[5]
Taqlid tersebut diperkuat juga dengan kata Al Imran ad Dahlawi yaitu:
يجوز لعامى ان يقلد رجلا من الفقھاء بعينه يرى انه يمتنع عن مثله الخطا او ان ما قال ھو الصواب البتۃ ڧي نفسى انه ليترك تقليده
Artinya: Tidak boleh seorang ummi bertaqlid kepada seseorang alim yang tertentu dengan anggapan bahwa orang yang seperti itu tak patut salah, atau dengan anggapan bahwa segala yang difatwakan oleh orang tersebut benar serta enggan pula berpindah pada pendapat orang lain walaupun sudah ada dalil yang membenarkarkan pendapat orang lain itu.
لايجوز التقليد فيمن لا يجوز ان يستفنى الحنفى مثلا فقيھا شافعيا وبالعكس ولا يجوز ان يقتدي الحنفى بإمام شافعى مثلا فان ھدا قد جالف اجماع القرون الاولى وناقص الصحابۃ والتابعين
Artinya: Memastikan orang yang mengaku dirinya bermadzhab hanafi harus terus menerus mengajukan masalahnya kepada ulama’-ulama’ hanafiyah saja tidak boleh kepada ulama’ safi’iyah umpamanya. Hal ini bertentangna dengan keadaan yang telah berjalan dalam abat-abat pertama.[6]

c)      Taqli yang diwajibkan.
Adapun taqlid yang diwajibkan dalam hal ini menurut sebagian pendapat wajib hukumnya yaitu taqlid kepada Nabi Muhammad SAW karena ada ayat Al qur’an dan sudah bernilah hujjah dengan sendirinya sebagaimana dalam surat Al-a’raf ayat 158 yaitu:
ö@è% $ygƒr'¯»tƒ ÚZ$¨Z9$# ÎoTÎ) ãAqßu «!$# öNà6ös9Î) $·èŠÏHsd Ï%©!$# ¼çms9 ہù=ãB ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ( Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ¾ÇósムàMÏJãƒur ( (#qãYÏB$t«sù «!$$Î/ Ï&Î!qßuur ÄcÓÉ<¨Y9$# ÇcÍhGW{$# Ï%©!$# ÚÆÏB÷sム«!$$Î/ ¾ÏmÏG»yJÎ=Ÿ2ur çnqãèÎ7¨?$#ur öNà6¯=yès9 šcrßtGôgs? ÇÊÎÑÈ  
Artinya:  Katakanlah: "Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk".
Namun, menurut analisa penulis Taqlid dalam hal ini sangat lemah sekali karena ayat yang dijadikan sandaran tersebut memakai kata ittiba’ bukan kata Taqlid.
c.       Syarat-Syarat Taqlid
Tentang syarat-syarat taqlid bisa dilihat dari dua hal, yaitu syarat orang yang bertaqlid dan syarat-syarat yang ditaqlidi. Syarat-syarat itu yakni sebagai berikut :
Ø  Syarat-syarat orang yang bertaqlid.
Syarat orang yang bertaqlid ialah orang awam atau orang biasa yang tidak mengerti cara-cara mencari hukum syara. Ia boleh mengikuti pendapat orang lain yang lebih mengerti hukum-hukum syara dan mengamalkannya. Adapun orang yang pandai dan sanggup menggali sendiri hukum-hukum syara maka ia harus berijtihad sendiri kalau baginya masih cukup. Namun, kalau waktunya sempit dan dikhawatirkan akan ketinggalan waktu untuk mengerjakannya yang lain (dalam soal-soal ibadah), maka menurut suatu pendapat ia boleh mengikuti pendapat orang pandai lainnya.
Ø  Syarat-syarat yang ditaqlid
Syarat yang ditaqlidi ada kalanya adalah hukum yang berhubungan dengan syara. Dalam hukum akal tidak boleh bertaqlid pada orang lain, seperti mengetahui adanya Dzat yang menciptakan alam serta sifat-sifatnya. Begitu juga hukum akal lainnya, karena jalan menetapkan hukum-hukum tersebut ialah akal, dan setiap orang mempunyai akal.[7]
B.     Ittiba.
a.      Pengetian Ittiba.
Ittiba artinya menurut atau mengikut. Menurut istilah agama yaitu menerima ucapan atau perkataan orang serta mengetahui alasan-alasannya (dalil), baik dalil itu al-Quran maupun hadis yang dapat dijadikan hujjah.[8] Imam Syafii mengemukakan pendapat bahwa ittiba berarti mengikuti pendapat-pendapat yang datang dari Nabi Muhammad SAW dan para sahabat atau yang datang dari tabiin yang mendatangkan kebajikan.[9]
Imam Ahmad dalam mendifinisikan ittibak berkata:
الاتباع ان يتبع الرجل ماجاء عن انبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه ثم من ھو من التابعين بخير
Artinya: ittiba’ itu ialah kita mengikuti pendapat yang datang dari nabi, dari para sahabat, kemudian yang datang dari tabiin yang diberikan kebajikan.[10]
Sedangkan menurut para ahli ushul fiqh ialah menerima atau mengikuti perkataan orang lain dengan mengetahui sumber atau alasan perkataan itu. Orang yang melakukan ittiba disebut muttabi yang jamaknya disebut muttabiun.[11]
Antara taqlid dengan ittiba mempunyai perbedaan, baik dalam segi sikap maupun perilakunya. Dalam taqlid tidak ada unsur kreativitas kajian, sedangkan dalam ittiba ada unsur kreativitas, yaitu studi dan pengkajian terhadap dalil yang menjadi dasar dari sebuah pemikiran hukum.[12]

b.      Dasar Hukum dan Hukum Ittiba
Bagi orang yang mempunyai kesanggupan untuk mengadakan penelitian terhadap nash-nash dan mengistinbatkan hukum dari padanya adalah tidak layak mengikuti pendapat orang lain tanpa mengemukakan hujjahnya. Sebab banyak didapatkan nash-nash yang memerintahkan agar kita ittiba, mengikuti pendapat orang lain dengan menemukan argumentasi-argumentasi dari pendapat orang yang diikuti dan mencela taqlid bagi orang-orang yang memiliki syarat untuk ijtihad.[13]
Ittiba dalam agama disuruh sebagaimana dalam firman Allah SWT surahAn-Nahl ayat 43 yang berbunyi:
: !$tBur $uZù=yör& ÆÏB y7Î=ö6s% žwÎ) Zw%y`Í ûÓÇrqœR öNÍköŽs9Î) 4 (#þqè=t«ó¡sù Ÿ@÷dr& ̍ø.Ïe%!$# bÎ) óOçGYä. Ÿw tbqçHs>÷ès? ÇÍÌÈ  
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui”,[14]
Dalam ayat diatas terdapat kalimat “bertanyalah”, yaitu menunjukkan wajib untuk dilakukan. Maksudnya kewajiban kamu bertanya kepada orang yang tahu dari kitab dan sunnah, tidak dari yang lain-lain. Rasulullah SAW juga bersabda yang artinya, “Wajib kamu turut sunnahku (cara) dan sunnah Khulafaur Rasyidin sesudahku”. (HR Abu Daud).[15]
Kata ittiba’ ini penggunaannya lebih baik daripada penggunaan kata taqlid, karena al-Quran sendiri menggunakan kata-kata ittiba berkaitan dengan hal-hal yang terpuji dan disyariatkan. Misalnya seperti yang terdapat pada ucapan Ibrahim kepada ayahnya  dalam surah Maryam ayat 43 yang berbunyi:
ÏMt/r'¯»tƒ ÎoTÎ) ôs% ÎTuä!%y` šÆÏB ÉOù=Ïèø9$# $tB öNs9 y7Ï?ù'tƒ ûÓÍ_÷èÎ7¨?$$sù x8Ï÷dr& $WÛºuŽÅÀ $wƒÈqy ÇÍÌÈ  
Artinya: “ Wahai bapakku, Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah Aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus”.
Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mengetahui dianjurkan untuk mengikuti orang alim dalam perkara yang tidak diketahuinya sendiri.[16]
Demikian juga kita dapatkan dalam kisah Musa bersama seorang hamba yang saleh yang terkenal denga nama Khidhr. Tentang kisah Musa ini Allah SWT berfirman dalam surah Al-Kahfi ayat 65-66 yang berbunyi :
#yy`uqsù #Yö6tã ô`ÏiB !$tRÏŠ$t6Ïã çm»oY÷s?#uä ZpyJômu ô`ÏiB $tRÏZÏã çm»oY÷K¯=tæur `ÏB $¯Rà$©! $VJù=Ïã ÇÏÎÈ   tA$s% ¼çms9 4ÓyqãB ö@yd y7ãèÎ7¨?r& #n?tã br& Ç`yJÏk=yèè? $£JÏB |MôJÏk=ãã #Yô©â ÇÏÏÈ  
Artinya: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.[17] Musa berkata kepada Khidhir: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"
Musa telah memohon kepada Khidhr as agar diizinkan untuk mengikutinya dan mengajarkannya apa yang telah Allah ajarkan kepadanya. Hal ini menunjukkan bukti bahwa mengikuti orang yang lebih mengetahui dalam sebagian permasalahan bukanlah hal yang tercela.
Berdasarkan firman-firman Allah SWT yang terdapat dalam al-Quran ini dan juga ada hadis dari Nabi SAW, maka jelaslah bahwa ittiba ini dianjurkan atau tidak dilarang.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan.
A.    Taqlid.
Taqlid menurut ahli bahasa, diambil dari kata-kata “qiladah” (kalung), yaitu sesuatu yang digantungkan atau dikalungkan seseorang kepada orang lain. Menurut istilah agama, taqlid yaitu menerima suatu ucapan orang lain serta memperpegangi tentang suatu hukum agama dengan tidak mengetahui keterangan-keterangan dan alasan-alasannya. Orang yang menerima cara tersebut disebut muqallid. Ibnu al-Hummam (dari kalangan ulamak hanafiyah) memberikan definisi lebih lengkap yang menjelaskan kesamaran yaitu beramal dengan pedapat seseorang yang pendapatnya itu bukan merupakan hujjah dan tampa mengetahui hujjahnya.
v  Macam-macam taqlid.
Ø  Taqlid yang diperbolehkan atau mubah.
Ø  Taqlid yang dilarang atau haram.
·         Taqlid buta (tidak mau memperdulikan alqur’an lantaran orang tua.
·      Taqlid terhadap orang-orang yang tidak kita ketahui apakah mereka ahli atau tidak tentang suatu hal yang kita ikuti.
·        Taqlid terhadap seseorang yang telah memperoleh hujjah dan dalil bahwa pendapat orang yang kita taqlidi itu bertentangan dengan ajaran Islam atau sekurang-kurangnya dengan al-Quran dan Hadis.
Ø  Taqli yang diwajibkan.
v  Syarat-Syarat Taqlid.
Ø  Syarat-syarat orang yang bertaqlid.
Syarat orang yang bertaqlid ialah orang awam atau orang biasa yang tidak mengerti cara-cara mencari hukum syara dan orang yang pandai dan sanggup menggali sendiri hukum-hukum syara namun waktunya sempit dan dikhawatirkan akan ketinggalan waktu untuk mengerjakannya yang lain (dalam soal-soal ibadah), maka menurut suatu pendapat ia boleh mengikuti pendapat orang pandai lainnya.
Ø  Syarat-syarat yang ditaqlid
Syarat yang ditaqlidi ada kalanya adalah hukum yang berhubungan dengan syara. Dalam hukum akal tidak boleh bertaqlid pada orang lain.
B.     Ittiba.
Ittiba artinya menurut atau mengikut. Menurut istilah agama yaitu menerima ucapan atau perkataan orang serta mengetahui alasan-alasannya (dalil), baik dalil itu al-Quran maupun hadis yang dapat dijadikan hujjah. Imam Syafii mengemukakan pendapat bahwa ittiba berarti mengikuti pendapat-pendapat yang datang dari Nabi Muhammad SAW dan para sahabat atau yang datang dari tabiin yang mendatangkan kebajikan. Sedangkan menurut para ahli ushul fiqh ialah menerima atau mengikuti perkataan orang lain dengan mengetahui sumber atau alasan perkataan itu. Orang yang melakukan ittiba disebut muttabi yang jamaknya disebut muttabiun.
v  Dasar Hukum dan Hukum Ittiba.
Ittiba dalam agama disuruh sebagaimana dalam firman Allah SWT surahAn-Nahl ayat 43 yang berbunyi:
: !$tBur $uZù=yör& ÆÏB y7Î=ö6s% žwÎ) Zw%y`Í ûÓÇrqœR öNÍköŽs9Î) 4 (#þqè=t«ó¡sù Ÿ@÷dr& ̍ø.Ïe%!$# bÎ) óOçGYä. Ÿw tbqçHs>÷ès? ÇÍÌÈ
Rasulullah SAW juga bersabda yang artinya, “Wajib kamu turut sunnahku (cara) dan sunnah Khulafaur Rasyidin sesudahku”. (HR Abu Daud).


DAFTAR PUSTAKA



Al-Qordahawi, Yusuf. Bagaimana Berinteraksi Dengan Peninggalan Ulama Salaf, terj. Ahrul Tsani Fathurrahman & Muhtadi Abdul Munim. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2003.
Arifin, Miftahul & Ahmad Faisal Haq. Ushul Fiqh Kaidah-Kaidah Penetapan Hukum Islam. Surabaya : Citra Media, 1997.
Bakry, Nazar. Fiqh dan Ushul Fiqh. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003.
Djalil, A. Basiq, Ilmu Ushul Fiqih. Jakarta: kencana, 2010.
Hanafi, Imam. Pengantar Ushul Fiqh dan Ilmu fiqh. Pamekasan: STAIN Pamekasan, 2014.
Rosyada, Dede. Metode Kajian Hukum Dewan Hisbah Persis. Jakarta : Logos, 1999.
Umam, Khairul & A. Achyar Aminudin. Ushul Fiqih II. Bandung : Pustaka Setia, 2001.


[1] Yusuf Al-Qaradhawi, Bagaimana Berinteraksi Dengan Peninggalan Ulama Salaf, terj. Ahrul Tsani Fathurrahman & Muhtadi Abdul Munim, (Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2003), hlm., 87.
[2] Nazar Bakry, Fiqh dan Ushul Fiqh, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003), hlm., 61.
[3] Imam Hafi, Pengantar Ushul Fiqh dan Ilmu Fiqh, (Pamekasan: STAIN Pamekasan, 2014), hlm., 115.
[4] A. Basiq Djalil, Ilmu Ushul Fiqih, (Jakarta: kencana, 2010), hlm., 198.
[5] Khairul Umam, A. Achyar Aminudin, Ushul Fiqih II, (Bandung : Pustaka Setia,2001), hlm., 155.
[6] Imam , Pengantar Ushul, hlm., 108.
[7] Khairul, Ushul., hal. 156
[8] Nazar, Fiqh, hlm., 60.
[9] Khairul,Ushul, hlm., 163.
[10] Imam, Pengantar Ushul, hlm 114.
[11] Khairul, Ushul,  hlm., 163.
[12] Dede Rosyada, Metode Kajian Hukum Dewan Hisbah Persis, (Jakarta : Logos, 1999), hlm., 25.
[13] Miftahul Arifin dan Ahmad Faisal Haq, Ushul Fiqh Kaidah-Kaidah Penetapan Hukum Islam, (Surabaya : Citra Media, 1997), hlm., 164.
[14] Yakni: orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang Nabi dan kitab-kitab.
[15] Nazar Bakry, Fiqh, hlm., 60-61.
[16]Al-Qaradhawi, Bagaimana Berinteaksi, hlm., 101.

[17] Menurut ahli tafsir hamba di sini ialah Khidhr, dan yang dimaksud dengan rahmat di sini ialah wahyu dan kenabian. sedang yang dimaksud dengan ilmu ialah ilmu tentang yang ghaib seperti yang akan diterangkan dengan ayat-ayat berikut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar