DAFTAR ISI
Kata pengantar...........................................................................................
*
Daftar isi.....................................................................................................
1
Bab I...........................................................................................................
2
Pendahuluan...............................................................................................
2
A. Latar belakang masalah..................................................................
2
B. Rumusan masalah...........................................................................
2
C. Tujuan masalah...............................................................................
2
Bab II.........................................................................................................
3
Pembahasan................................................................................................
3
A. Taqlid..............................................................................................
3
a.
Pengertian Taqlid......................................................................
3
b.
Macam-macam Taqlid..............................................................
4
c.
Syarat-syarat Taqlid..................................................................
6
B. Ittiba’..............................................................................................
8
a.
Penegrtian ittiba’......................................................................
8
b. Dasar hukum dan hukum Ittiba’...............................................
8
Bab III.......................................................................................................
11
Penutup......................................................................................................
11
A. Kesimpulan....................................................................................
11
A.
Taqlid.......................................................................................
11
B. Ittiba’.......................................................................................
12
Daftar pustaka...........................................................................................
13
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang masalah.
Ilmu Ushul Fiqh merupakan metode dalam menggali dan
menetapkan hukum, ilmu ini sangat berguna untuk membimbing para mujtahid dalam
mengistimbatkan hukum syara’ secara benar dan dapat dipertanggung jawabkan
hasilnya. Melalui ushul fiqh dapat ditemukan
jalan keluar dalam menyelesaikan dalil-dalil yang kelihatannya bertentangan
dengan dalil lainnya.
Dalam ushul fiqh juga dibahas
masalah taklid
dan ittiba’. Keduanya
memiliki arti yang berbeda dan maksudnya pun berbeda. Namun tidak jarang kita temukan dalam pengaplikasiannya
di masyarakat muslim masih dicampuradukan antara taqlid dan ittiba’.
Oleh karena itu penting kiranya dalam makalah ini penulis
uraikan kembali hal-hal yang berkenaan dengan taqlid dan ittiba’ sebagai langkah awal menuju muslim sejati sesuai dengan
perintah rasulallah SAW.
B. Rumusan masalah.
a. Pengertian, macam-macam serta hukumnya dan syarat-syarat
Taqlid?
b. Pengertian, dasar hukum dan hukum Ittiba’?
C. Tujuan masalah.
Tujuan dari
makalah ini yang pertama yaitu diharapkan dapat memberikan sumbangsi pemahaman
kepada para pembaca dalam masalah taqlid dan ittiba’.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Taqlid.
a. Pengertian Taqlid
Taqlid menurut ahli bahasa, diambil dari kata-kata “qiladah” (kalung), yaitu sesuatu yang digantungkan atau dikalungkan
seseorang kepada orang lain. Contoh penggunaannya dalam bahasa Arab, yaitu taqlid al-hady (mengalungi hewan
kurban). Seseorang yang bertaqlid, dengan taqlidnya itu seolah-olah
menggantungkan hukum yang diikutinya dari seorang mujtahid.[1]
Menurut istilah agama, taqlid yaitu menerima suatu ucapan orang lain serta
memperpegangi tentang suatu hukum agama dengan tidak mengetahui
keterangan-keterangan dan alasan-alasannya. Orang yang
menerima cara tersebut disebut muqallid.[2]
Menurut imam Al ghazali dalam al mustashfa menerangkan bahwa:
التقليد قبول قول بغير حجة وليس
طريقا للعلم لافي الاصول ولافي الفروع
Artnya: taqlid adalah menerima perkataan tampa hujjah dan tiadalah taqlid
itu menjadi jalan kepada pengetahuan (keyakinan), baik urusan ushul maupun
dalam usrusan furu’
Dan juga menurut abu syam, guru annawawi seorang ulama’ terkenal dengan
madzhab syafi’i dalam kitab al muammal dikatakan:
والتقليد لغير الرسول صلى الله
عليه وسلم حرام
Artinya: bertaqlid kepada selain rasulallah SAW, haram (diharamkan).[3]
Mengenai berbagai pertanyaan yang terjadi dikalangan umat muslim mengenai
bagaimana kalau yang diambil atau yang diterima itu adalah perbuaatan, bukan
ucapan atau pendapat, maka Al- Mahalli yanga mensyarah kitab jam’ul
al-jawami’ menjelaskan bahwa menerima atau mengambil selain ucapan, baik
dalam bentuk perbuatan atau pengalaman tidak dikatakan taqlid. Dan juga
menegenai suatu hal dalam penerimaannya ada hujjahnya atau mengetahui dalilnya
maka cara tersebut tidak dikatakan taqlid dengan alasan merupakan karya ijtihad
yang kebetulan hasilnya bersamaan dengan yang diikutinya.
Ibnu al-Hummam (dari kalangan ulamak hanafiyah) memberikan definisi lebih
lengkap yang menjelaskan kesamaran yaitu beramal dengan pedapat seseorang yang
pendapatnya itu bukan merupakan hujjah dan tampa mengetahui hujjahnya.
Sehubungan dengan definisi ini maka menerima pendapat nabi yang bernilai hujjah
dengan sendirinya begitu juga menerima pendapat yang lahir deri kesepakatan
dalam ijma’ tidak disebut taqlid meskipun dalam penerimaannya tampa mengetahui
dalilnya. Sebaliknya, pendapat pendapat mujtahid secara perorangan adalah bukan
hujjah, maka bila seseorang mengikuti pendapat mujtahid tampa menegetahi
dalilnya disebut taqlid.
b. Macam-macam taqlid serta hukumnya.
Mengenai hukum taqlid itu mutlak batal bahkan menurut Ibnu Haz terlarangnya
taqlid itu sudah ijma’ ulama’. Mereka bersandaran ayat alqur’an surat Al-isyra’
ayat 36.
wur
ß#ø)s?
$tB
}§øs9
y7s9
¾ÏmÎ/
íOù=Ïæ
4
¨bÎ)
yìôJ¡¡9$#
u|Çt7ø9$#ur
y#xsàÿø9$#ur
@ä.
y7Í´¯»s9'ré&
tb%x.
çm÷Ytã
Zwqä«ó¡tB
ÇÌÏÈ
Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”[4]
Namun meski begitu dalam
pengaplikasikannya terbagi kepada tiga macam, yaitu taqlid yang diperbolehkan
dengan syarat, taqlid yang dilarang atau haram dan taqlid yang diwajibkan,
yaitu sebagai berikut:
a)
Taqlid yang diperbolehkan
atau mubah.
Taqlid yang diperbolehkan atau mubah yaitu taqlid bagi orang-orang awam
yang belum sampai pada tingkatan sanggup mengkaji dalil dari hukum-hukum
syariat atau hanya terbatas pada masalah furu’iyah, sedangkan dalam masalah
usuluddin kebanyakan uamak berpendapat tidak boleh bertaqlid hal ini dikuatkan
oleh Al-razi dengan dalilnya surat muhammad ayat sebagai berikut:
óOn=÷æ$$sù
¼çm¯Rr&
Iw
tm»s9Î)
wÎ)
ª!$#
öu
......
Artinya: “Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya
tidak ada Ilah (sesembahan / Tuhan) selain Allah....”
Ayat ini menerangkan bahwa wajib mengetahui
Allah. Dalam artian mengetahui kepada keyakinan dan itu hanya dapat diketahui
dengan ilmu oleh sebab itu maka menurut Al-razi harus mengetahui dalilnya.
Sebagaimana yang dikatakan Imam Hasan
Al-Bana mengenai taqlid ini, menurut beliau taqlid adalah sesuatu yang mubah
dan diperbolehkan oleh syariat, namun meski demikian, hal itu tidak berlaku
bagi semua manusia. Akan tetapi hanya dibolehkan bagi setiap muslim yang belum
sampai pada tingkatan an-nazhr atau
tidak memiliki kemampuan untuk mengkaji dalil dari hukum-hukum syariat, yaitu
bagi orang awam yang awam sekali dan yang serupa dengan mereka, yang tidak
memiliki keahlian dalam mengkaji dalil-dalil hukum, atau kemampuan untuk
menyimpulkan hukum dari al-Quran dan Sunnah, serta tidak mengetahui ijma dan
qiyas.
b)
Taqlid yang dilarang atau
haram.
Taqlid yang dilarang atau haram yaitu bagi orang-orang yang sudah mencapai
tingakatan an-nazhr atau yang sanggup
mengkaji hukum-hukum syariat. Ada beberapa taqlid yang dilarang ini antara
lain :
Ø Taqlid buta (tidak mau memperdulikan
ayat tuhan lantaran orang tua.
Taqlid buta yaitu memahami suatu hal dengan cara mutlaq dan
membabi buta tanpa memperhatikan ajaran al-Quran dan Hadis, seperti menaqlid
orang tua atau masyarakat walaupun ajaran tersebut bertentangan dengan ajaran
al-Quran dan Hadis. Firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 170 :
#sÎ)ur
@Ï% ãNßgs9
(#qãèÎ7®?$# !$tB
tAtRr& ª!$#
(#qä9$s%
ö@t/
ßìÎ6®KtR
!$tB
$uZøxÿø9r& Ïmøn=tã
!$tRuä!$t/#uä 3 öqs9urr&
c%x. öNèdät!$t/#uä w
cqè=É)÷èt $\«øx© wur
tbrßtGôgt ÇÊÐÉÈ
Artinya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa
yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi Kami
hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang
kami". "(Apakah
mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat
petunjuk?".
Firman Allah di atas tegas
mencela terhadap orang-orang yang bertaqlid yakni orang yang menerima
hukum-hukum agama dengan membabi tuli atau buta.
Ø Taqlid terhadap orang-orang yang tidak kita ketahui apakah mereka ahli atau
tidak tentang suatu hal yang kita ikuti.
Ø Taqlid terhadap seseorang yang telah memperoleh hujjah dan dalil bahwa
pendapat orang yang kita taqlidi itu bertentangan dengan ajaran Islam atau
sekurang-kurangnya dengan al-Quran dan Hadis. Namun, boleh
bertaqlid terhadap suatu pendapat, garis-garis
hukum tentang soal-soal dari seorang mujtahid yang betul-betul mengetahui
hukum-hukum Allah dan Rasul.[5]
Taqlid tersebut diperkuat juga dengan kata Al Imran ad Dahlawi yaitu:
يجوز لعامى ان يقلد رجلا من
الفقھاء بعينه يرى انه يمتنع عن مثله الخطا او ان ما قال ھو الصواب البتۃ ڧي نفسى انه
ليترك تقليده
Artinya: Tidak boleh seorang ummi bertaqlid kepada seseorang alim yang
tertentu dengan anggapan bahwa orang yang seperti itu tak patut salah, atau
dengan anggapan bahwa segala yang difatwakan oleh orang tersebut benar serta
enggan pula berpindah pada pendapat orang lain walaupun sudah ada dalil yang
membenarkarkan pendapat orang lain itu.
لايجوز التقليد فيمن لا يجوز
ان يستفنى الحنفى مثلا فقيھا شافعيا وبالعكس ولا يجوز ان يقتدي الحنفى بإمام شافعى
مثلا فان ھدا قد جالف اجماع القرون الاولى وناقص الصحابۃ والتابعين
Artinya: Memastikan orang yang mengaku dirinya bermadzhab hanafi harus
terus menerus mengajukan masalahnya kepada ulama’-ulama’ hanafiyah saja tidak
boleh kepada ulama’ safi’iyah umpamanya. Hal ini bertentangna dengan keadaan
yang telah berjalan dalam abat-abat pertama.[6]
c) Taqli yang diwajibkan.
Adapun taqlid yang diwajibkan dalam hal ini menurut sebagian pendapat wajib
hukumnya yaitu taqlid kepada Nabi Muhammad SAW karena ada ayat Al qur’an dan
sudah bernilah hujjah dengan sendirinya sebagaimana dalam surat Al-a’raf ayat
158 yaitu:
ö@è%
$ygr'¯»t
ÚZ$¨Z9$#
ÎoTÎ)
ãAqßu
«!$#
öNà6ös9Î)
$·èÏHsd
Ï%©!$#
¼çms9
Ûù=ãB
ÏNºuq»yJ¡¡9$#
ÇÚöF{$#ur
(
Iw
tm»s9Î)
wÎ)
uqèd
¾Çósã
àMÏJãur
(
(#qãYÏB$t«sù
«!$$Î/
Ï&Î!qßuur
ÄcÓÉ<¨Y9$#
ÇcÍhGW{$#
Ï%©!$#
ÚÆÏB÷sã
«!$$Î/
¾ÏmÏG»yJÎ=2ur
çnqãèÎ7¨?$#ur
öNà6¯=yès9
crßtGôgs?
ÇÊÎÑÈ
Artinya:
Katakanlah: "Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah
kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada
Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka
berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada
Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya
kamu mendapat petunjuk".
Namun, menurut analisa penulis Taqlid dalam
hal ini sangat lemah sekali karena ayat yang dijadikan sandaran tersebut
memakai kata ittiba’ bukan kata Taqlid.
c. Syarat-Syarat Taqlid
Tentang syarat-syarat taqlid bisa dilihat dari dua hal, yaitu syarat orang
yang bertaqlid dan syarat-syarat yang ditaqlidi. Syarat-syarat itu yakni
sebagai berikut :
Ø Syarat-syarat orang yang bertaqlid.
Syarat
orang yang bertaqlid ialah orang awam atau orang biasa yang tidak mengerti
cara-cara mencari hukum syara. Ia boleh mengikuti pendapat orang lain yang
lebih mengerti hukum-hukum syara dan mengamalkannya. Adapun orang yang pandai
dan sanggup menggali sendiri hukum-hukum syara maka ia harus berijtihad sendiri
kalau baginya masih cukup. Namun, kalau waktunya sempit dan dikhawatirkan akan
ketinggalan waktu untuk mengerjakannya yang lain (dalam soal-soal ibadah), maka
menurut suatu pendapat ia boleh mengikuti pendapat orang pandai lainnya.
Ø Syarat-syarat yang ditaqlid
Syarat
yang ditaqlidi ada kalanya adalah hukum yang berhubungan dengan syara. Dalam
hukum akal tidak boleh bertaqlid pada orang lain, seperti mengetahui adanya
Dzat yang menciptakan alam serta sifat-sifatnya. Begitu juga hukum akal
lainnya, karena jalan menetapkan hukum-hukum tersebut ialah akal, dan setiap
orang mempunyai akal.[7]
B. Ittiba.
a. Pengetian Ittiba.
Ittiba
artinya menurut atau mengikut. Menurut istilah agama yaitu menerima ucapan atau
perkataan orang serta mengetahui alasan-alasannya (dalil), baik dalil itu
al-Quran maupun hadis yang dapat
dijadikan hujjah.[8]
Imam Syafii mengemukakan pendapat bahwa ittiba berarti mengikuti
pendapat-pendapat yang datang dari Nabi Muhammad SAW dan para sahabat atau yang
datang dari tabiin yang mendatangkan kebajikan.[9]
Imam Ahmad dalam mendifinisikan ittibak berkata:
الاتباع ان يتبع الرجل ماجاء عن انبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه ثم من ھو من التابعين
بخير
Artinya: ittiba’ itu ialah kita mengikuti pendapat yang datang dari nabi,
dari para sahabat, kemudian yang datang dari tabiin yang diberikan kebajikan.[10]
Sedangkan menurut para ahli ushul fiqh ialah menerima atau mengikuti
perkataan orang lain dengan mengetahui sumber atau alasan perkataan itu. Orang yang
melakukan ittiba disebut muttabi yang
jamaknya disebut muttabiun.[11]
Antara
taqlid dengan ittiba mempunyai perbedaan, baik dalam segi sikap maupun
perilakunya. Dalam taqlid tidak ada unsur kreativitas kajian, sedangkan dalam
ittiba ada unsur kreativitas, yaitu studi dan pengkajian terhadap dalil yang
menjadi dasar dari sebuah pemikiran hukum.[12]
b. Dasar Hukum dan Hukum Ittiba
Bagi orang yang mempunyai kesanggupan untuk mengadakan penelitian terhadap
nash-nash dan mengistinbatkan hukum dari padanya adalah tidak layak mengikuti
pendapat orang lain tanpa mengemukakan hujjahnya. Sebab banyak didapatkan
nash-nash yang memerintahkan agar kita ittiba, mengikuti pendapat orang lain
dengan menemukan argumentasi-argumentasi dari pendapat orang yang diikuti dan
mencela taqlid bagi orang-orang yang memiliki syarat untuk ijtihad.[13]
Ittiba dalam agama disuruh sebagaimana dalam firman Allah SWT surahAn-Nahl
ayat 43 yang berbunyi:
: !$tBur
$uZù=yör& ÆÏB y7Î=ö6s%
wÎ)
Zw%y`Í ûÓÇrqR öNÍkös9Î)
4 (#þqè=t«ó¡sù
@÷dr&
Ìø.Ïe%!$#
bÎ) óOçGYä. w
tbqçHs>÷ès? ÇÍÌÈ
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus sebelum
kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka
bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui”,[14]
Dalam ayat diatas terdapat kalimat “bertanyalah”,
yaitu menunjukkan wajib untuk dilakukan. Maksudnya kewajiban kamu
bertanya kepada orang yang tahu dari kitab dan sunnah, tidak dari yang
lain-lain. Rasulullah SAW juga bersabda yang artinya, “Wajib kamu turut sunnahku (cara) dan sunnah
Khulafaur Rasyidin sesudahku”. (HR Abu Daud).[15]
Kata ittiba’ ini penggunaannya lebih baik daripada penggunaan kata taqlid,
karena al-Quran sendiri menggunakan kata-kata ittiba berkaitan dengan hal-hal
yang terpuji dan disyariatkan. Misalnya seperti yang terdapat pada ucapan
Ibrahim kepada ayahnya dalam surah Maryam ayat 43 yang berbunyi:
ÏMt/r'¯»t ÎoTÎ)
ôs%
ÎTuä!%y` ÆÏB
ÉOù=Ïèø9$#
$tB öNs9
y7Ï?ù't
ûÓÍ_÷èÎ7¨?$$sù
x8Ï÷dr&
$WÛºuÅÀ
$wÈqy ÇÍÌÈ
Artinya: “ Wahai bapakku, Sesungguhnya
telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu,
Maka ikutilah Aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus”.
Ayat
ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mengetahui dianjurkan untuk mengikuti
orang alim dalam perkara yang tidak diketahuinya sendiri.[16]
Demikian
juga kita dapatkan dalam kisah Musa bersama seorang hamba yang saleh yang
terkenal denga nama Khidhr. Tentang kisah Musa ini Allah SWT berfirman dalam
surah Al-Kahfi ayat 65-66 yang berbunyi :
#yy`uqsù
#Yö6tã ô`ÏiB !$tRÏ$t6Ïã çm»oY÷s?#uä
ZpyJômu
ô`ÏiB $tRÏZÏã
çm»oY÷K¯=tæur `ÏB $¯Rà$©! $VJù=Ïã ÇÏÎÈ tA$s%
¼çms9 4ÓyqãB ö@yd
y7ãèÎ7¨?r&
#n?tã
br& Ç`yJÏk=yèè? $£JÏB |MôJÏk=ãã #Yô©â ÇÏÏÈ
Artinya: “Lalu mereka bertemu dengan
seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya
rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi
Kami.[17]
Musa berkata kepada Khidhir: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu
mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan
kepadamu?"
Musa telah memohon kepada Khidhr as agar diizinkan untuk mengikutinya dan
mengajarkannya apa yang telah Allah ajarkan kepadanya. Hal ini
menunjukkan bukti bahwa mengikuti orang yang lebih mengetahui dalam sebagian
permasalahan bukanlah hal yang tercela.
Berdasarkan
firman-firman Allah SWT yang terdapat dalam al-Quran ini dan juga ada hadis
dari Nabi SAW, maka jelaslah bahwa ittiba ini dianjurkan atau tidak dilarang.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan.
A. Taqlid.
Taqlid menurut ahli bahasa, diambil dari kata-kata “qiladah” (kalung), yaitu sesuatu yang digantungkan atau dikalungkan
seseorang kepada orang lain. Menurut istilah agama, taqlid yaitu
menerima suatu ucapan orang lain serta memperpegangi tentang suatu hukum agama
dengan tidak mengetahui keterangan-keterangan dan alasan-alasannya. Orang yang
menerima cara tersebut disebut muqallid.
Ibnu al-Hummam (dari kalangan ulamak hanafiyah) memberikan definisi lebih
lengkap yang menjelaskan kesamaran yaitu beramal dengan pedapat seseorang yang
pendapatnya itu bukan merupakan hujjah dan tampa mengetahui hujjahnya.
v Macam-macam taqlid.
Ø Taqlid yang diperbolehkan atau mubah.
Ø Taqlid yang dilarang atau haram.
·
Taqlid buta (tidak mau memperdulikan alqur’an lantaran orang tua.
·
Taqlid terhadap
orang-orang yang tidak kita ketahui apakah mereka ahli atau tidak tentang suatu
hal yang kita ikuti.
·
Taqlid terhadap seseorang
yang telah memperoleh hujjah dan dalil bahwa pendapat orang yang kita taqlidi
itu bertentangan dengan ajaran Islam atau sekurang-kurangnya dengan al-Quran
dan Hadis.
Ø Taqli yang diwajibkan.
v Syarat-Syarat Taqlid.
Ø Syarat-syarat orang yang bertaqlid.
Syarat
orang yang bertaqlid ialah orang awam atau orang biasa yang tidak mengerti
cara-cara mencari hukum syara dan orang yang
pandai dan sanggup menggali sendiri hukum-hukum syara namun waktunya sempit
dan dikhawatirkan akan ketinggalan waktu untuk mengerjakannya yang lain (dalam
soal-soal ibadah), maka menurut suatu pendapat ia boleh mengikuti pendapat
orang pandai lainnya.
Ø Syarat-syarat yang ditaqlid
Syarat
yang ditaqlidi ada kalanya adalah hukum yang berhubungan dengan syara. Dalam
hukum akal tidak boleh bertaqlid pada orang lain.
B. Ittiba.
Ittiba
artinya menurut atau mengikut. Menurut istilah agama yaitu menerima ucapan atau
perkataan orang serta mengetahui alasan-alasannya (dalil), baik dalil itu
al-Quran maupun hadis yang dapat
dijadikan hujjah. Imam Syafii mengemukakan pendapat bahwa ittiba berarti
mengikuti pendapat-pendapat yang datang dari Nabi Muhammad SAW dan para sahabat
atau yang datang dari tabiin yang mendatangkan kebajikan. Sedangkan menurut para ahli ushul fiqh ialah
menerima atau mengikuti perkataan orang lain dengan mengetahui sumber atau
alasan perkataan itu. Orang yang melakukan ittiba disebut muttabi yang jamaknya disebut muttabiun.
v Dasar Hukum dan Hukum Ittiba.
Ittiba dalam agama disuruh sebagaimana dalam firman Allah SWT surahAn-Nahl
ayat 43 yang berbunyi:
: !$tBur
$uZù=yör& ÆÏB y7Î=ö6s%
wÎ)
Zw%y`Í ûÓÇrqR öNÍkös9Î)
4 (#þqè=t«ó¡sù
@÷dr&
Ìø.Ïe%!$#
bÎ) óOçGYä. w
tbqçHs>÷ès? ÇÍÌÈ
Rasulullah SAW
juga bersabda yang artinya, “Wajib kamu
turut sunnahku (cara) dan sunnah Khulafaur Rasyidin sesudahku”. (HR Abu
Daud).
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qordahawi, Yusuf. Bagaimana
Berinteraksi Dengan Peninggalan Ulama Salaf, terj. Ahrul Tsani Fathurrahman & Muhtadi
Abdul Munim. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2003.
Arifin, Miftahul & Ahmad Faisal
Haq. Ushul Fiqh Kaidah-Kaidah
Penetapan Hukum Islam.
Surabaya : Citra Media, 1997.
Bakry, Nazar. Fiqh dan
Ushul Fiqh. Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada,
2003.
Djalil, A. Basiq, Ilmu Ushul Fiqih. Jakarta:
kencana, 2010.
Hanafi, Imam. Pengantar Ushul Fiqh dan Ilmu
fiqh. Pamekasan: STAIN Pamekasan, 2014.
Rosyada, Dede. Metode
Kajian Hukum Dewan Hisbah Persis. Jakarta
: Logos, 1999.
Umam, Khairul & A. Achyar
Aminudin. Ushul Fiqih II.
Bandung : Pustaka Setia, 2001.
[1] Yusuf Al-Qaradhawi, Bagaimana
Berinteraksi Dengan Peninggalan Ulama Salaf, terj. Ahrul Tsani Fathurrahman
& Muhtadi
Abdul Munim, (Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2003), hlm., 87.
[13] Miftahul Arifin dan Ahmad Faisal Haq, Ushul Fiqh Kaidah-Kaidah Penetapan Hukum Islam, (Surabaya : Citra
Media, 1997), hlm., 164.
[17] Menurut ahli
tafsir hamba di sini ialah Khidhr, dan yang dimaksud dengan rahmat di sini
ialah wahyu dan kenabian. sedang yang dimaksud dengan ilmu ialah ilmu tentang
yang ghaib seperti yang akan diterangkan dengan ayat-ayat berikut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar